GAVI puji kemajuan pesat imunisasi mandiri di Indonesia

3 months ago 14
Capaian Indonesia dalam vaksinasi saat ini merupakan bukti dampak dari fokus aliansi dalam bermitra dengan negara-negara untuk sistem imunisasi mandiri

Jakarta (ANTARA) - Aliansi Vaksin Dunia (GAVI) memuji keberhasilan Indonesia dalam Program Imunisasi Nasional yang dinilai mencatat kemajuan luar biasa berkat kerja sama dan dukungan Pemerintah Indonesia bersama GAVI.

"Sangatlah relevan untuk menyebutkan kisah sukses Indonesia yang telah mencapai kemajuan luar biasa berkat dukungan GAVI, berhasil bertransisi keluar dari GAVI," kata Senior Manager Market Shaping GAVI, Anna Osborne, dalam keterangannya melalui PT Bio Farma (Persero) di Jakarta, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan Anna dalam agenda '26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) Annual General Meeting (AGM)' yang digelar di Bali, Kamis (30/10).

Dalam kesempatan itu, Anna juga mengatakan bahwa Indonesia baru-baru ini menjadi negara berpenghasilan menengah pertama yang berkontribusi pada periode strategis GAVI, melalui komitmen pendanaan sebesar 30 juta dolar AS atau sekitar Rp499 miliar.

Baca juga: Kemenkes dan PAHO paparkan mekanisme pendanaan vaksin regional

Menurutnya, capaian Indonesia dalam vaksinasi saat ini merupakan bukti dampak dari fokus aliansi dalam bermitra dengan negara-negara untuk sistem imunisasi mandiri.

Seiring dengan meningkatnya kendala fisik bagi negara dan donor, kata Anna, keseimbangan antara pembiayaan eksternal dan domestik akan terus berkembang, sehingga Hal GAVI harus lebih cerdas dan strategis dalam pendekatannya.

"Singkatnya, GAVI akan berevolusi dari menjadi enabler sistem berkelanjutan jangka panjang, yang mendorong inovasi, akses dan kesetaraan, serta akuntabilitas bersama antarnegara dan mitra," kata Anna.

Ia optimistis, kemitraan dengan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) dapat mempertahankan kemajuan dan memastikan akses, pemerataan, dan keterjangkauan sebagai inti dari upaya imunisasi global.

Baca juga: Memperkuat Kolaborasi Global untuk Membangun Ekosistem Vaksin yang Tangguh dan Berkelanjutan

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyambut baik pujian yang diberikan GAVI.

Ia mengatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu dari 19 negara yang berhasil bertransisi dari dukungan GAVI, dan perjalanan untuk menjadi lebih baik masih panjang.

"Terima kasih Anna atas kesempatan untuk menyebutkan salah satu kiprah Indonesia di tingkat global. Kami sudah memikirkan bagaimana agar program imunisasi ini lebih berkelanjutan," katanya.

Dalam paparannya, di bawah kepemimpinan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Indonesia mampu bertransisi menjadi salah satu pemimpin di bidang kesehatan.

Baca juga: Menkes tekankan kolaborasi ekonomi untuk kesehatan global

Alih-alih kurangnya dukungan, Dr Nadia melihatnya sebagai salah satu peluang bagi Indonesia dalam hal berkelanjutan, terutama untuk program vaksinasi.

"Saya rasa kami telah memulai pada 2017 dengan mengembangkan rencana aksi nasional untuk program imunisasi, yang tentu saja mencakup bagaimana kami memiliki proyeksi biaya multiyears untuk memastikan ketersediaan vaksin," kata Nadia.

Secara bertahap, Indonesia telah mengamankan anggaran untuk program imunisasi agar mampu membiayai semua vaksin dengan anggaran mandiri.

Dr Nadia menyebut adanya tiga pilar yang diterapkan Indonesia dan bisa menjadi contoh oleh negara lain. Mulai dari menjadikan program imunisasi sebagai prioritas dan komitmen, memiliki perencanaan yang baik, hingga dukungan dari pemerintah hingga keputusan presiden.

Baca juga: Bio Farma terpilih Board Chair DCVMN, perkuat jejaring produsen vaksin

"Dan hal lainnya adalah negara harus mencari cara lain, kami menyebutnya 'beli cerdas' dengan memanfaatkan akses vaksin yang terjangkau, termasuk melalui AMC atau mekanisme lainnya. Industri vaksin lokal perlu dilibatkan untuk memastikan pasokan dan keamanan jangka panjang," katanya.

Dr Nadia juga menyebut keterlibatan UNICEF dan WHO dalam program imunisasi di Indonesia, sehingga seluruh kegiatan di tingkat negara dapat terkoordinasi dengan baik.

Ia menuturkan, diperlukan penilaian risiko, seperti penilaian risiko pasca-transisi GAVI, yang hingga kini menjadi salah satu kerangka kerja utama dalam proses transisi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa diperlukan mekanisme penilaian risiko, termasuk penilaian risiko pasca-transisi GAVI, yang berfungsi sebagai kerangka kerja dalam mendukung kelancaran proses transisi hingga saat ini.

Baca juga: DCVMN ke-26 di Bali teguhkan komitmen ketahanan kesehatan global

"Dan saya rasa, inilah semua pelajaran yang bisa kita bagikan dari perspektif Indonesia. Jadi, sejak awal kita sudah membuat perencanaan yang matang, koordinasi yang baik, dan tentu saat ini kita memiliki banyak hal yang bisa kita mobilisasi dalam hal sumber daya, termasuk membangun pembiayaan inovatif," terangnya.

GAVI merupakan aliansi global yang meningkatkan aktivitas akses vaksin di negara berkembang untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah.

GAVI mendukung pengadaan vaksin terjangkau, memperkuat sistem imunisasi, dan bekerja sama dengan mitra global untuk memperluas cakupan vaksinasi secara berkelanjutan.

Baca juga: Bio Farma dan DCVMN perkuat kolaborasi vaksin global

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |