FPCI: Transisi energi jadi ajang persaingan global

3 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai bahwa transisi energi kini telah menjadi ajang persaingan ekonomi global, di mana negara yang cepat mengembangkan industri energi bersih akan memimpin di masa depan.

Dia menyampaikan hal tersebut dalam arahan media “Rekomendasi Kebijakan, Regulasi, dan Implementasi Program 100 GW PLTS untuk Ketahanan dan Kemandirian Energi serta Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” yang diselenggarakan oleh FPCI di Jakarta, Jumat.

Karena itulah, lanjut Dino, saat Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan komitmen untuk mencapai energi terbarukan 100 persen dalam waktu 10 tahun di KTT G20 Brazil, Unit Iklim FPCI berinisiatif mengumpulkan para ahli untuk mencari cara bagaimana membantu pemerintah Indonesia mewujudkan hal tersebut.

“100 GW dalam 10 tahun itu menurut kami adalah suatu hal yang sangat realistis dan bisa dicapai asal kita serius dan mempunyai program yang juga terlaksana dengan baik,” ujar mantan wakil menteri luar negeri RI itu.

Menurutnya, program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW tidak hanya sebatas proyek energi, tetapi juga proyek ekonomi, proyek industri, dan proyek masa depan itu sendiri, menegaskan bahwa ada alasan penting perlunya percepatan pengembangan PLTS.

Alasan itu adalah ketahanan energi dan industrialisasi energi bersih, yang dapat menciptakan keadilan pembangunan dan produktivitas desa, ujar Dino.

Untuk ketahanan energi, lanjut Dino, energi surya dapat memberikan sumber energi domestik yang bersih dan stabil untuk jangka panjang yang tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga global.

Sedangkan untuk industrialisasi energi bersih, kata Dino, pemerintah dapat membangun industri dengan membangun manufaktur, rantai pasok, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM) sehingga dapat menciptakan kesempatan untuk menaikkan kelas dalam rantai pasok global.

Untuk pembangunan dan produktivitas desa, ujar Dino, jika pemerintah terus membangun PLTS yang terdistribusi ke desa-desa di seluruh Indonesia, maka hal tersebut dapat menjadi program elektrifikasi energi terbarukan yang terbesar di Asia Tenggara.

“Ini bukan hanya masalah listrik yang menyala, ini soal productive use of energy. Listrik untuk UMKM, cold storage, pertanian, pengelolaan hasil, dan ekonomi desa yang lebih produktif,” kata Dino.

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |