Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan seni ukir Jepara merupakan warisan budaya yang memiliki nilai artistik sekaligus ekonomi kreatif yang sangat besar.
Menurutnya, karya para pengukir Jepara telah dikenal luas hingga mancanegara dan menjadi bagian dari industri kreatif global.
"Seni ukir Jepara bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merupakan pencapaian artistik yang tinggi sebagai ekspresi budaya Indonesia," ujarnya di Jakarta, Jumat.
Fadli menilai kehadiran buku Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir menjadi langkah strategis untuk memperkuat literasi mengenai sejarah dan perkembangan seni ukir Jepara.
Menurutnya, buku tersebut tidak sekadar mendokumentasikan perjalanan seni ukir, tetapi juga menawarkan perspektif baru mengenai masa depan Jepara sebagai pusat seni ukir dunia.
Baca juga: Fadli Zon: India dukung restorasi Candi Prambanan melalui kerja sama
Ia mengingatkan bahwa jumlah generasi muda yang menekuni seni ukir terus menurun sehingga diperlukan langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.
Karena itu, Kementerian Kebudayaan mendorong berbagai program pelestarian, seperti pelatihan bersama maestro, pengembangan sekolah maupun lokakarya ukir, hingga peningkatan kapasitas generasi muda agar keterampilan mengukir tetap diwariskan.
"Buku ini menjadi ikhtiar intelektual untuk merekam perjalanan sejarah seni ukir Jepara sekaligus memperkuat upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatannya," kata Fadli.
Ia juga menegaskan pemerintah akan terus mengupayakan pengakuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, sekaligus memperkuat mekanisme perlindungan (safeguarding) agar tradisi tersebut tetap lestari.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyebut peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah seni ukir kepada generasi muda agar tidak kehilangan identitas budaya daerah.
Sementara soal antusiasme masyarakat terhadap pameran TATAH, tercatat cukup tinggi, adapun pada awal Juli 2026, pameran telah dikunjungi lebih dari 53 ribu orang.
Baca juga: Fadli Zon sebut kegiatan ziarah di Gunung Kawi bagian tradisi lama
Meski demikian, ada tantangan saat ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengemas seni ukir agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan menarik bagi generasi muda.
Salah satu penulis buku, Arif Akhyat menjelaskan buku tersebut menawarkan pendekatan baru dalam membaca sejarah Jepara.
Seni ukir tidak hanya dipahami sebagai karya estetika, tetapi juga sebagai hasil perjalanan sejarah, dinamika sosial, hubungan perdagangan, serta strategi budaya yang membentuk identitas Jepara selama berabad-abad.
Ia menyebut rekonstruksi sejarah dilakukan melalui kajian berbagai artefak, arsip, hingga peninggalan budaya yang selama ini belum banyak dikaji dalam historiografi nasional.
Direktur TATAH Veronica Rompies mengatakan buku tersebut bukanlah akhir dari upaya memahami Jepara, melainkan titik awal lahirnya diskusi yang lebih luas mengenai seni ukir, sejarah, serta kehidupan para pengukir.
Ia berharap berbagai gagasan yang muncul dari buku dan forum diskusi dapat berkembang menjadi riset, kebijakan, maupun langkah konkret dalam memperkuat ekosistem seni ukir Jepara.
Baca juga: Fadli Zon: Kunjungan museum dan cagar budaya naik 400 persen
Baca juga: Kemenbud menggagas program Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































