Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi kelapa sawit melalui implementasi biodiesel B50 memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan nilai tambah, serta mendorong kesejahteraan petani Indonesia.
"Implementasi B50 menjadi momentum strategis untuk memperkuat hilirisasi industri sawit nasional," kata Mentan dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Menurut Amran, meningkatnya pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel akan memperluas pasar domestik, meningkatkan nilai tambah komoditas, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
Ia menyebutkan kinerja industri sawit nasional menunjukkan tren yang positif. Produksi crude palm oil (CPO) sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton, meningkat dari 48,16 juta ton pada 2024 atau tumbuh 7,3 persen.
Di saat yang sama, ekspor meningkat dari 29,53 juta ton menjadi 32,34 juta ton, seiring semakin besarnya pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel.
“Program B50 akan semakin memperkuat hilirisasi sawit nasional. Produksi sawit kita terus meningkat, ekspor juga tumbuh, sementara pemanfaatan di dalam negeri melalui biodiesel semakin besar," ujarnya.
Artinya, menurut Mentan, nilai tambah komoditas sawit semakin tinggi dan manfaat ekonominya semakin dirasakan oleh petani.
Baca juga: DPR sebut peluncuran B50 langkah strategis menuju kemandirian energi
Baca juga: Prabowo: Bendungan dan B50 bukti kerja nyata menuju Indonesia makmur
Mentan mengungkapkan, implementasi B50 akan memperluas pasar domestik minyak sawit, meningkatkan permintaan tandan buah segar (TBS), memperkuat harga di tingkat petani, serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di sentra-sentra perkebunan.
Kementerian Pertanian akan terus meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan budidaya, penggunaan benih unggul, peremajaan sawit rakyat, serta penguatan hilirisasi agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen terbesar dunia, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah yang sebesar bagi kesejahteraan petani dan perekonomian nasional.
Dengan dukungan sektor pertanian yang semakin kuat, lanjut Amran, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga mempercepat terwujudnya kemandirian energi yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan kemakmuran rakyat.
Adapun Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program mandatori biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Peluncuran B50 menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
Kementerian Pertanian menilai peluncuran B50 menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara swasembada pangan dan swasembada energi.
Sementara itu, Presiden Prabowo menegaskan keberhasilan pembangunan harus diukur dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat, terutama petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional.
Presiden mengatakan peluncuran B50 merupakan bukti nyata Indonesia mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Menurut Presiden, kelangsungan hidup sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuannya memenuhi tiga kebutuhan strategis, yakni pangan, energi, dan air. Karena itu, keberhasilan Indonesia mewujudkan swasembada pangan menjadi fondasi penting menuju kemandirian energi.
“Kita sudah buktikan kita mampu mengamankan dan menghasilkan pangan untuk rakyat kita. Kita sudah swasembada pangan. Dari target empat tahun, kita telah berhasil dalam satu tahun,” tegas Presiden.
Baca juga: Guru Besar USU: B50 layak digunakan untuk kendaraan diesel
Baca juga: Airlangga sebut program B50 bisa hemat devisa Rp177 triliun
Baca juga: B50 dan E5 memperkuat jalan Indonesia menuju swasembada energi
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































