Istanbul (ANTARA) - Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menekankan perlunya mengurangi permintaan energi sebagai bagian dari upaya mengatasi krisis yang terus berkembang, bersamaan dengan kenaikan harga di tengah ketegangan Timur Tengah.
Merujuk pada meningkatnya tagihan blok Eropa untuk impor bahan bakar fosil yang meningkat hingga lebih dari 22 miliar euro (Rp445 triliun) dalam 44 hari terakhir, von der Leyen menyebutkan serangkaian langkah untuk menargetkan permintaan energi.
"Energi yang paling murah adalah energi yang tidak digunakan. Kami harus mengurangi permintaan sambil sepenuhnya menghormati pilihan bebas konsumen. Jadi, kami sedang mempertimbangkan tingkat efisiensi energi, seperti renovasi bangunan atau pembaruan peralatan dalam operasi industri," katanya sambil menekankan perlunya menemukan cara untuk mengurangi permintaan energi.
Baca juga: Komisi Eropa sebut tarif AS atas Greenland dapat merusak hubungan
Von der Leyen mengatakan bahwa Uni Eropa sedang mempertimbangkan koordinasi pengisian penyimpanan gas negara-negara anggota di seluruh blok itu untuk menghindari persaingan pasar serta pelepasan stok minyak bersama untuk memaksimalkan dampak, sambil memastikan langkah-langkah darurat tidak berpengaruh terhadap pasar tunggal.
"Apa yang kita lihat di Timur Tengah bukanlah krisis yang jauh, tetapi di dunia di mana segala sesuatu terhubung, dampaknya langsung dan segera terasa," tambahnya.
Dia juga memperingatkan bahwa blok tersebut membayar harga yang sangat mahal atas ketergantungan yang berlebihan pada bahan bakar fosil.
"Realitas suram bagi benua kita adalah energi bahan bakar akan tetap menjadi pilihan termahal di tahun-tahun mendatang," kata von der Leyen.
Dia juga mencatat bahwa strategi mereka untuk dekarbonisasi telah dikonfirmasi dalam beberapa tahun terakhir.
"Tujuan kami sangat jelas. Kami perlu meningkatkan produksi energi dalam negeri yang terjangkau dan andal," ujarnya.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Von der Leyen: Uni Eropa, Arab Saudi akan jaga stabilitas Timur Tengah
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































