Jakarta (ANTARA) — Emas digital kini menjadi salah satu solusi inklusi keuangan di Indonesia, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota. Melalui layanan berbasis aplikasi, masyarakat dapat menabung emas mulai dari nominal kecil tanpa harus datang langsung ke toko emas, sehingga akses terhadap instrumen pelindung nilai menjadi lebih mudah dan merata.
Selama ini, keterbatasan akses terhadap emas fisik masih menjadi tantangan di daerah. Proses jual beli yang mengharuskan kehadiran langsung di toko emas, ditambah biaya transportasi dan keterbatasan likuiditas lokal, membuat sebagian masyarakat kesulitan memanfaatkan emas sebagai sarana menjaga nilai harta di tengah tekanan inflasi.
Transformasi digital di sektor keuangan membuka alternatif melalui emas dan perak digital. Nilai simpanan masyarakat dikonversi langsung ke dalam emas atau perak dan mengikuti harga pasar, sehingga dapat berfungsi sebagai lindung nilai terhadap penurunan daya beli uang tunai.
Perkembangan emas digital didukung oleh berbagai pihak lintas sektor. Perbankan syariah, BUMN, hingga perbankan nasional menghadirkan layanan tabungan emas berbasis digital. Bank Syariah Indonesia menyediakan layanan emas digital berbasis prinsip syariah, sementara Pegadaian terus memperluas akses layanan emas melalui digitalisasi. Di sisi lain, Bank Rakyat Indonesia memperkuat distribusi layanan keuangan digital hingga ke pelosok melalui aplikasinya.
Di tingkat komunitas, koperasi juga dinilai berperan strategis dalam memperluas literasi dan pemanfaatan emas digital, khususnya di wilayah pedesaan dan sektor informal. Salah satunya adalah Koperasi Merah Putih, yang berfungsi sebagai penghubung langsung antara layanan keuangan digital dan masyarakat.
Dari sektor swasta, perusahaan teknologi finansial berbasis syariah turut melengkapi ekosistem. Direktur ShariaCoin (PT Syariah Koin Indonesia), Adji Waluyo, menyatakan bahwa emas digital memungkinkan masyarakat menjaga nilai harta tanpa terhambat jarak. Menurutnya, keunggulan utama emas dan perak digital terletak pada likuiditas dan transparansi harga, sehingga masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada satu toko emas lokal ketika membutuhkan dana cepat.
Selain emas, perak digital juga dinilai memiliki potensi besar sebagai instrumen inklusif. Dengan harga yang lebih terjangkau, perak digital dapat menjadi sarana menabung bagi masyarakat berpenghasilan harian untuk membangun kebiasaan pengelolaan keuangan jangka panjang.
Pengembangan emas digital nasional juga mendapat dukungan dari pemerintah dan regulator. Adji mengapresiasi peran DPR RI serta pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, yang dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan inovasi keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Ke depan, emas digital berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari perencanaan keuangan nasional, termasuk untuk tabungan pendidikan dan tabungan pensiun berbasis emas. Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat peran emas dan perak digital sebagai salah satu pilar ketahanan ekonomi masyarakat Indonesia, dari kota hingga wilayah terpencil.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































