Ekonom: Kunjungan Menkeu ke AS redam kekhawatiran terhadap fiskal RI

5 hours ago 6

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet berpendapat kunjungan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ke Amerika Serikat (AS) membantu meredam kekhawatiran pasar terhadap posisi fiskal Indonesia.

“Dalam jangka pendek, tentu ada dampaknya. Setidaknya bisa membantu meredakan kekhawatiran pasar, apalagi kalau pesan yang disampaikan cukup jelas,” kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Namun, menurut dia, efek tersebut membutuhkan respons lanjutan.

Penyampaian Pemerintah Indonesia mengenai komitmen menjaga disiplin fiskal atau strategi dalam merespons tekanan global berperan menciptakan kepercayaan diri sementara (temporary confidence).

Maka, bila tujuan yang ingin dicapai adalah dampak jangka panjang, menurut dia, Pemerintah Indonesia perlu membuktikan komitmennya melalui implementasi kebijakan.

“Investor akan melihat apa yang terjadi setelahnya, bukan hanya apa yang disampaikan dalam pertemuan. Termasuk lembaga seperti Moody’s Investors Service, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings, yang akan menilai konsistensi antara narasi dan implementasi kebijakan,” ujar dia.

Yusuf mengatakan tantangan yang perlu menjadi perhatian pemerintah saat ini yaitu menyoal fleksibilitas ruang fiskal.

Bila harga komoditas mulai ternormalisasi, maka penerimaan negara kemungkinan akan mengalami tekanan.

Sementara itu, belanja negara relatif kaku, baik untuk program prioritas maupun kebutuhan menjaga daya beli.

Dalam kondisi itu, menurut dia, pemerintah perlu mengatur strategi untuk mencegah risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ini yang akan sangat diperhatikan pasar. Apakah setelah kunjungan tersebut ada langkah konkret, seperti reprioritisasi belanja atau penguatan sisi penerimaan yang realistis? Bagaimana strategi pembiayaan defisitnya?” kata Yusuf.

Yusuf menggarisbawahi risiko yang membayangi bila defisit melebar tanpa strategi yang kredibel di antaranya termasuk peningkatan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dan biaya utang.

“Di titik ini, pasar juga akan melihat kualitas kebijakan, bukan hanya angkanya. Apakah pelebaran defisit, kalau terjadi, bersifat terukur dan countercyclical, atau justru mencerminkan tekanan struktural yang belum terselesaikan,” ujar dia.

Sebagai catatan, Menkeu Purbaya melakukan pertemuan strategis dengan petinggi Bank Dunia, Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings.

Menkeu menyatakan berbagai lembaga global itu mengapresiasi arah strategi kebijakan fiskal Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |