DPMPTSP: Pengolahan sawit dan kelapa magnet investasi baru di Kotim

3 months ago 28

Sampit (ANTARA) - Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah Diana Setiawan mengatakan terjadinya perubahan tren investasi yang lebih condong ke pengolahan sawit dan kelapa.

Diana di Sampit, Senin, menjabarkan, sampai hari ini dari sisi investasi perkebunan memang agak berkurang dibandingkan sebelum Satgas PKH datang, bahkan investor di bidang perkebunan masih enggan mengurus izin baru.

"Namun, justru sekarang yang banyak masuk adalah hasil dari hilirisasi seperti pengolahan cangkang, CPO, kernel, dan sebagainya,” terangnya.

Diana menjelaskan, meski izin baru untuk perkebunan sawit menunjukkan penurunan pasca-pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Korupsi (Satgas PKH), minat terhadap industri turunan justru meroket.

Pihaknya mencatat adanya pergeseran signifikan dalam peta investasi daerah, kini fokus penanaman modal mulai beralih dari sektor hulu (perkebunan) menuju sektor hilirisasi (pengolahan).

Ia pun membeberkan, saat ini terdapat tiga perusahaan raksasa yang sedang memproses izin pembangunan pabrik pengolahan CPO. Salah satu yang paling progresif adalah Sinarmas Group, yang bahkan telah mengantongi izin resmi dan memasuki tahap konstruksi.

“Sinarmas Group ini salah satu yang paling siap. Mereka akan membangun pabrik pengolahan yang tidak hanya menghasilkan CPO mentah, tapi juga produk turunan seperti coklat dan es krim. Jadi konsepnya memang hilirisasi penuh dari hasil sawit,” terang Diana.

Sementara itu, dua perusahaan besar lainnya telah mengajukan izin serupa dan menunggu penyelesaian administrasi.

Keduanya dilaporkan sudah memiliki lahan dan berencana membangun fasilitas di Kawasan Industri Bagendang. DPMPTSP memastikan proses perizinan dilakukan selektif demi menjamin kesesuaian dengan tata ruang dan regulasi daerah.

“Tren ini jelas menjadi hal yang positif, karena sejalan dengan program pemerintah pusat untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, pergeseran ini tidak hanya terjadi di sektor sawit, tetapi juga merambah ke komoditas kelapa dalam. Pasalnya, dua pabrik pengolahan kelapa dalam sedang dalam tahap pembangunan, dan satu perusahaan lagi masih dalam tahap penjajakan.

Jika seluruh rencana ini terealisasi, Kotim, khususnya kawasan industri Bagendang, akan memiliki tiga pabrik pengolahan kelapa dalam yang beroperasi.

Menurut Diana, gelombang investasi menuju hilirisasi ini memperkuat struktur ekonomi Kotim agar lebih mandiri dan berkelanjutan.

Peningkatan jumlah industri pengolahan diharapkan membawa manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat, terutama melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR).

Diana Setiawan optimis, berkat lokasi yang strategis dan dukungan akses pelabuhan, Kawasan Industri Bagendang akan bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan menjadi kawasan industri unggulan di Kalimantan Tengah.

“Bagendang ini sangat potensial. Dengan masuknya investor besar dari sektor hilirisasi, kita berharap kawasan ini benar-benar berkembang menjadi pusat industri unggulan di Kalimantan Tengah,” demikian Diana Setiawan.

Baca juga: Pemkab Kotim-GPPI sepakat wujudkan pengelolaan sawit berkelanjutan

Baca juga: MES edukasi warga Kotawaringin Timur investasi di pasar modal syariah

Baca juga: Karhutla berimbas buruk terhadap investasi di Kotawaringin Timur

Pewarta: Muhammad Arif Hidayat/Devita Maulina
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |