Dosen Unej teliti tanaman zaman prasejarah di Geopark Ijen

5 hours ago 4

Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Dosen Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember (Unej) meneliti tanaman zaman prasejarah di Geopark Ijen, khususnya wilayah Erek-erek Geoforest di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa.

Tumbuhan paku dari marga Cyathea tergolong tanaman zaman prasejarah karena diperkirakan sudah ada di bumi sejak 65 juta tahun yang lalu dan tanaman tersebut ada di wilayah Erek-erek Geoforest Banyuwangi.

"Kami menemukan ada dua jenis paku pohon di wilayah Erek-erek Geoforest, yakni Cyathea contaminas dan Cyathea orientalis," kata salah satu dosen yang juga peneliti Fakultas MIPA Unej Prof. Hari Sulistyowati di Jember, Rabu.

Menurut dia tanaman paku pohon tumbuh subur di Erek-erek Geoforest yang berada di ketinggian antara 1.600 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang masuk dalam kawasan Perhutani Wilayah Barat Banyuwangi.

Baca juga: PT Pelindo Solusi Logistik dukung pembudidayaan tanaman langka Kalbar

"Bahkan tim kami menemukan banyak paku pohon yang tingginya mencapai enam hingga 10 meter seperti pohon kelapa. Kondisi itu dimungkinkan karena lingkungan Erek-erek Geoforest yang masih alami, kelembaban tinggi, kanopi pohon yang rapat dan limpahan sumber air," tuturnya.

Ia mengatakan kelestarian hutan di wilayah Erek-erek juga karena kondisi topografinya karena wilayah itu seperti dibentengi oleh bentang alam Gunung Rante.

"Kami menduga bahwa bentang alam itu yang melindungi wilayah Erek-erek dari letusan Gunung Ijen purba pada masa lalu. Tak heran jika kondisinya masih terjaga, masih seperti ribuan tahun lalu," katanya.

Hari bersama timnya ketika memulai riset di Erek-erek Geoforest merasa takjub dengan kondisi alamnya, seperti sedang masuk ke hutan di era dinosaurus.

"Keberadaan paku pohon yang masuk tumbuhan purba beserta lingkungan pendukungnya itu tentu saja menarik untuk dikaji. Saat ini para ahli Biologi FMIPA Unej terus meneliti," ujarnya.

Baca juga: Pemkab Gunungkidul keluarkan surat edaran menanam tanaman langka

Seperti yang dilakukan oleh dua dosen, Fuad Bahrul Ulum dan Dwi Setyati, yang berusaha mendeskripsikan dan meneliti morfologi paku pohon, mulai dari tinggi batang, warna sisik, bentuk spora hingga bagaimana perkembangbiakannya.

"Diharapkan hasil penelitian akan menambah khazanah pengetahuan mengenai tumbuhan paku pohon yang merupakan fosil hidup karena bentuknya yang hampir tidak berubah sejak zaman prasejarah," katanya.

Dosen Unej juga meneliti kekayaan sumber daya alam lainnya di Erek-erek Geoforest, mulai dari lingkungan, tanaman hingga hewan yang ada, karena memang sungguh luar biasa sehingga bisa menjadi sumber pengetahuan dan peluang riset lanjutan.

Tidak heran jika kemudian wilayah Erek-erek Geoforest tergolong High Conservation Value (HCV) atau Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT). KBKT adalah konsep identifikasi nilai biologis, ekologis, sosial, atau budaya yang sangat signifikan di suatu wilayah.

KBKT digunakan untuk melindungi keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan kebutuhan masyarakat. Begitu pentingnya sehingga semua pihak harus turut menjaga kelestariannya.

"Oleh karena itu kondisi Erek-erek Geoforest harus dijaga bersama, sebab harta yang tak ternilai bagi wilayah Tapal Kuda,” ujarnya.

Baca juga: Pangkalpinang temukan tanaman manggis klabang dinyatakan punah

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |