Kairo (ANTARA) - Konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mengirim gelombang kejut ke seluruh dunia dan memengaruhi berbagai sektor.
Seiring serangan antara pihak-pihak yang bertikai terus berlanjut, pengiriman melalui Selat Hormuz, sebuah jalur transportasi global yang krusial dan strategis, mengalami gangguan parah.
Selain sektor energi dan pengiriman, pasokan pangan global juga mulai terdampak, sebagaimana tercermin dalam lonjakan tajam harga pangan dan peringatan dari badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
BAGAIMANA KRISIS MEMENGARUHI PRODUKSI PANGAN?
Kawasan Teluk tidak hanya memproduksi sebagian besar pupuk dunia, tetapi juga memasok bahan baku utama, dengan sekitar sepertiga dari perdagangan pupuk via jalur laut global melewati Selat Hormuz.
Karena transportasi melalui Selat Hormuz sebagian besar terganggu, gas alam, yang merupakan bahan baku utama untuk pupuk nitrogen, menjadi sulit untuk dikirim ke negara-negara produsen pertanian utama seperti Brasil dan Sudan.
Sementara itu, produsen pupuk di India dan Pakistan juga kesulitan mendapatkan bahan baku.
Pupuk fosfat menghadapi gangguan serupa. Negara-negara Teluk menyumbang sekitar seperlima dari output pupuk fosfat dunia dan seperempat dari pasokan belerang global, sebuah produk sampingan petrokimia yang digunakan untuk memproses fosfat.
Dengan ekspor yang sebagian besar terhenti, guncangan pasokan ini berdampak luas di seluruh pasar pupuk.
Waktu terjadinya krisis ini semakin memperburuk situasi.
Di seluruh Belahan Bumi utara, dari Eropa hingga Amerika Utara, para petani biasanya membeli pupuk pada Maret untuk digunakan pada April dan Mei.
Kelangkaan pupuk dapat memaksa para petani untuk mengurangi penggunaannya atau beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit input eksternal, keputusan yang dapat memicu penurunan pada hasil panen beberapa bulan kemudian.
Pertanian modern sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Minyak dan gas alam digunakan untuk menggerakkan traktor, sistem irigasi, dan pengering biji-bijian.
Keduanya juga menjadi fondasi produksi pupuk, pengolahan pangan, pendinginan, serta transportasi. Bahkan bahan kemasan, mulai dari plastik pembungkus hingga wadah penyimpanan, berasal dari bahan petrokimia.
Harga pupuk global telah melonjak sekitar sepertiga sejak konflik dimulai.
Kontrak berjangka plastik juga meningkat tajam, dengan perusahaan kimia raksasa BASF mengumumkan kenaikan harga hingga 20 persen untuk bahan aditif plastik utama di seluruh dunia.
Harga bahan bakar yang lebih tinggi juga mendorong naiknya biaya pengiriman dan logistik, yang secara langsung memengaruhi rantai pasokan pangan.
"Jika krisis ini berlanjut, biaya transportasi dan pengolahan pangan mungkin akan semakin naik, dan input pertanian seperti pupuk mungkin bisa menjadi langka," ujar Samina Sultan, seorang ekonom dari Institut Ekonomi Jerman (German Economic Institute), sembari memperingatkan. "Risiko pasokan dapat semakin menaikkan biaya produk pertanian, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan harga di supermarket dan memicu putaran baru tekanan inflasi."
BAGAIMANA KETAHANAN PANGAN GLOBAL BISA TERANCAM PBB telah memperingatkan bahwa kenaikan harga pangan dan energi akan berdampak paling parah di negara-negara berkembang dan di kalangan keluarga berpenghasilan rendah, di mana pengeluaran untuk pangan mencakup proporsi besar dari total pengeluaran.
"Konflik tersebut telah berdampak langsung terhadap ketahanan pangan di Timur Tengah. Di Lebanon, muncul pengungsi internal dalam jumlah besar di tengah populasi yang selama beberapa tahun terakhir sudah bergulat dengan tingkat kerawanan pangan yang tinggi," ungkap Program Pangan Dunia (WFP) dalam laporan terbarunya.
Operasi kemanusiaan juga berada di bawah tekanan.
"Rute pengiriman yang lebih panjang dan kemacetan mengancam kemampuan WFP untuk menjangkau populasi rentan dengan cepat, meningkatkan risiko bahwa orang-orang akan menunggu lebih lama untuk mendapatkan bantuan dan menghadapi kerawanan pangan serta malanutrisi yang semakin parah," tambah laporan tersebut.
Seiring krisis kian parah, apa yang awalnya merupakan konflik regional terkait energi dan geopolitik kini berubah menjadi ancaman terhadap pasokan pangan global, dengan konsekuensi yang tidak hanya diukur dengan barel minyak, tetapi juga dengan piring-piring kosong. Selesai
Pewarta: Xinhua
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































