Moskow (ANTARA) - Belanda sedang mempertimbangkan untuk berpartisipasi dalam misi perlindungan pelayaran di Selat Hormuz, tetapi belum membuat keputusan, kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda Tom Berendsen, Senin.
"Terkait tindakan spesifik di Selat Hormuz, kami akan mempelajari apa yang berpotensi mungkin terjadi, apa masalahnya, dan apa yang dapat dilakukan. Ini adalah keputusan penting dan yang terpenting harus layak. Jadi, saat ini saya belum membuat keputusan," kata Berendsen kepada wartawan.
Berendsen berpendapat bahwa mengirimkan beberapa kapal ke jalur air yang penting itu tidak akan menyelesaikan masalah keamanan di Timur Tengah. Dunia sedang memantau situasi di selat tersebut dengan cermat, katanya.
Dia menambahkan bahwa ada baiknya untuk mempertimbangkan peluang kerja sama dengan sejumlah mitra internasional.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan para menlu negara-negara anggota Uni Eropa mempertimbangkan opsi untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran. Para menlu itu melakukan pertemuan guna membahas hal tersebut di Brussels, Senin.
Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk di Teheran, hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran pun membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.
Eskalasi konflik itu telah menyebabkan blokade secara de facto terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan kepada China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Dubes AS sebut Trump tepat desak Sekutu NATO amankan Selat Hormuz
Baca juga: Tanggapi permintaan Trump, PM: Jepang tidak akan kirim kapal ke Hormuz
Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































