Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pidato Presiden Prabowo Subianto yang mengusung konsep “Prabowonomics” di Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menyampaikan sinyal positif bagi calon investor dan investor internasional tentang Indonesia.
“Yang lebih menjadi PR (pekerjaan rumah) sebetulnya dalam diplomasi ini adalah untuk menarik kepercayaan daripada dunia luar termasuk investor asing. Jadi dengan pidato ini paling tidak Prabowo harus bisa menyampaikan pesan-pesan positif untuk menaikkan optimisme,” kata Faisal kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Faisal, hal tersebut sangat vital mengingat adanya potensi kekhawatiran terhadap langkah-langkah kebijakan Presiden Prabowo, termasuk target pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.
“Nah, jadi dengan begitu maka Pak Presiden memang mesti harus menyampaikan sinyal-sinyal yang lebih positif, ya,” ujar dia.
Namun, pada saat yang sama, Faisal menilai pemerintah juga harus mampu untuk melakukan implementasi dari paparan tersebut secara konkret di lapangan, baik dalam kebijakan, program, hingga strategi jangka menengah dan panjang untuk meraih target yang dicanangkan.
“Karena bagaimana pun, investor dan juga dunia luar pada umumnya itu melihat langkah yang diambil efektivitasnya, bukan apa saja yang disampaikan,“ katanya.
Terlebih, Faisal mengatakan, Global Competitiveness Index Indonesia pada tahun lalu mengalami penurunan 13 peringkat, yang salah satu penyebab utamanya adalah dari indikator persepsi terhadap efisiensi pemerintah (government efficiency) dan efisiensi bisnis (business efficiency).
“Nah, jadi ada kekhawatiran atau pertanyaan dari para investor dan dunia luar terhadap gap antara apa yang disampaikan dan apa yang dilakukan,” ujar Faisal.
“Jadi artinya, (yang penting saat ini) adalah bagaimana mewujudkan, merealisasikan, membuktikan apa yang dibicarakan dengan apa yang nanti dijalankan. Gap ini seringkali besar, ya, antara komitmen dengan implementasi. Jadi itu catatan saya,” katanya menambahkan.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































