Cheriatna, anak petani yang menjadikan dunia sebagai sekolah kehidupan

1 month ago 24
Kisah Cheriatna bukanlah cerita sensasional, melainkan refleksi tentang daya tahan harapan, bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, dapat bertumbuh sejauh mungkin jika mau belajar, bekerja keras, beradaptasi, dan menjaga nilai-nilai kebaikan.

Jakarta (ANTARA) - Siapa pun yang pernah tumbuh di tengah keterbatasan tahu betul bahwa harapan sering kali berawal dari ruang yang sederhana.

Begitu pula kisah Cheriatna, anak petani tanaman hias dari pinggiran Jakarta Selatan, yang menempuh jalan hidup penuh ketekunan, kerja keras, dan keyakinan.

Di antara pot tanaman, tanah lembap, dan bau pupuk kandang, ia belajar bahwa sesuatu yang dirawat dengan sabar pada akhirnya akan berbuah.

Pelajaran itu kelak menjadi fondasi hidupnya, jauh melampaui batas sekolah formal yang ia jalani yang hanya hingga jenjang SMA.

Dalam masyarakat yang sering menakar masa depan seseorang dari ijazah, Cheriatna sempat dianggap akan berhenti pada garis start. Banyak yang meragukan kemampuannya menembus batas sosial ekonomi.

Namun, di balik keraguan itu, pria kelahiran 5 Agustus 1974 itu memegang keyakinan sederhana bahwa pendidikan memang penting, tetapi semangat belajar tidak berhenti di ruang kelas.

Hidup, dengan segala tantangannya, juga dapat menjadi universitas yang penuh pelajaran. Prinsip itu menuntunnya untuk terus melangkah, bukan dengan terburu-buru, melainkan dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan memperbaiki diri.

Di tengah perjalanan hidupnya, ia menerima amanah besar dari Tuhan yaitu sebelas anak yang harus dibimbing, dirawat, dan diberi teladan.

Banyak orang mungkin melihat jumlah itu sebagai beban. Namun bagi Cheriatna dan istrinya, Farida Ningsih, keluarga bukan sekadar tanggung jawab ekonomi, melainkan sumber energi, motivasi, dan makna.

Mereka sepakat bahwa usaha apa pun yang dijalani tidak boleh menggerus nilai utama rumah tangga: kasih sayang, kehadiran, dan kebersamaan. Prinsip ini kemudian membentuk cara mereka bekerja, mengambil keputusan, dan menata masa depan.

Baca juga: Ulet berkarya dalam sunyi hingga mampu kuliahkan anak

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |