Cakupan imunisasi rendah dinilai picu meningkatnya kasus campak

3 weeks ago 26

Jakarta (ANTARA) - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) menyoroti cakupan imunisasi rendah masih menjadi pemicu meningkatnya kasus campak termasuk di Indonesia.

Dalam seminar media yang diikuti secara daring dari Jakarta, Sabtu, dokter Piprim mengatakan bahwa campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

“Problem di masalah campak ini sebetulnya adalah di cakupan imunisasi. Jadi penyakit ini termasuk penyakit PD3I, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,“ kata dokter Piprim.

Baca juga: RI perkuat deteksi dini & imunisasi respons kasus WNA yang kena campak

Dokter Piprim mengatakan program imunisasi tersebut disediakan secara gratis, namun pelaksanaannya masih menghadapi kendala seperti keterbatasan akses layanan, gangguan rantai dingin atau cold chain yang menyebabkan vaksin rusak.

Selain itu, masih adanya penolakan dari masyarakat terhadap vaksin (vaccine hesitancy) dipicu beredarnya informasi keliru. Ketika cakupan imunisasi belum mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok, kasus campak mulai bermunculan.

“Karena sangat menular, cakupannya harus tinggi untuk terbentuk herd immunity. Jadi kalau cakupannya turun katakanlah 60 persen saja, itu sudah muncul Kejadian Luar Biasa (KLB)-nya di mana-mana,” tutur dia.

Baca juga: Anggota DPR minta percepat imunisasi nasional cegah campak

Campak, lanjut dokter Piprim tidak bisa dianggap sebagai penyakit ringan. Campak bisa menimbulkan komplikasi, seperti radang paru, radang otak, kebutaan, dan penularannya jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19.

Lebih lanjut, IDAI menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer ini termasuk meningkatkan cakupan imunisasi, dan membutuhkan keterlibatan semua pihak guna mencegah menularnya campak.

Selain pentingnya imunisasi, Piprim mengatakan perbaikan nutrisi yang bergizi seperti asupan tinggi protein hewani untuk meningkatkan daya tahan tubuh, serta pentingnya mengenali deteksi awal penyakit campak dan segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan.

Baca juga: Kemenkes rawat 31 pasien IGD-gencarkan vaksinasi campak di Pidie Jaya

“Jadi sebetulnya ini adalah sebuah wake-up call ya, alarm yang harusnya menyadarkan kita bahwa campak ini tidak bisa dianggap ringan,” kata dia.

“Jangan sampai ya beberapa kasus dibiarkan saja di rumah, tidak kenal adanya tanda bahaya seperti pneumonia, anaknya sesak dan sebagainya dibiarkan saja, kemudian meninggal karena tanpa ada pertolongan yang memadai,” tambahnya.

Baca juga: Kemenkes gencarkan imunisasi campak cegah penyebaran di pengungsian

Baca juga: WHO: Kematian campak turun 88 persen sejak 2000 tapi kasus meningkat

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |