Bandarlampung (ANTARA) - Di tengah derasnya arus globalisasi yang kian mengaburkan batas-batas identitas lokal, sebuah tradisi tua di Lampung Barat tetap bertahan. Bahkan tumbuh dengan semangat baru.
Tradisi itu adalah Sekura Cakak Buah, pesta topeng yang bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuat dari jati diri, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya masyarakat setempat.
Pada suasana hangat setelah Idul Fitri di Pekon Muara Jaya II, Kecamatan Kebun Tebu, denyut kehidupan tradisi itu terasa begitu nyata. Tawa, canda, dan langkah kaki para peserta Sekura berpadu dalam satu harmoni yang menggambarkan kegembiraan kolektif.
Di balik topeng-topeng yang dikenakan, tersembunyi kisah panjang tentang nilai, sejarah, dan identitas yang diwariskan lintas generasi. Sekura bukanlah tradisi biasa, ia merupakan ekspresi budaya yang sarat makna di mana para peserta mengenakan topeng dengan berbagai bentuk dan karakter, menciptakan suasana penuh misteri sekaligus kegembiraan.
Dalam anonimitas topeng, semua perbedaan seakan luluh, status sosial, usia, bahkan latar belakang semuanya menyatu dalam satu ruang kebersamaan.
Tradisi ini digelar setiap awal Syawal, menjadi penanda berakhirnya bulan suci Ramadan sekaligus awal dari kebersamaan yang baru. Lebih dari sekadar pesta, Sekura merupakan ruang rekonsiliasi sosial, tempat masyarakat mempererat tali silaturahim dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong.
Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyatakan turut bangga menyaksikan bagaimana generasi muda, khususnya muli mekhanai (bujang-gadis) di daerahnya mengambil peran penting dalam menjaga dan menghidupkan tradisi ini. Bahkan hampir mereka menjadi penggerak utama dalam penyelenggaraannya.
Bagi dia, keterlibatan generasi muda bukan sekadar partisipasi, tetapi merupakan indikator kuat bahwa budaya ini masih memiliki masa depan. Di tengah gempuran budaya populer dan gaya hidup modern.
Fenomena ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran akan pudarnya budaya lokal. Sebab, tanpa keterlibatan generasi penerus, tradisi hanya akan menjadi catatan sejarah tanpa kehidupan.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































