Buleleng jadi percontohan ketahanan pangan berbasis sekolah 

3 weeks ago 8
Di samping budaya seni yang sudah mendunia. Ini untuk menjawab kebutuhan pangan yang berkelanjutan

Singaraja, Bali (ANTARA) - Kabupaten Buleleng, Bali melalui Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) menjadi percontohan ketahanan pangan berbasis sekolah sebagai upaya membangun kemandirian perpanganan sejak dini.

"Ini bukan sekadar aktivitas menanam. Gerakan ini sebagai sebuah upaya sistematis membangun ketahanan pangan dengan melibatkan generasi muda," kata Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Akmal Malik saat peluncuran serentak di empat sekolah di sekitar Kota Singaraja, Bali, Senin.

Gerakan tersebut bertujuan membangun kemandirian pangan melalui sekolah ini dimulai di SD Negeri 3 Banjar Jawa, SMP Negeri 1 Singaraja, SMA Negeri 1 Singaraja, dan SMK Negeri 3 Singaraja.

"Ini adalah program ketahanan pangan berbasis sekolah. Fokus kami adalah membangun budaya dan etos menanam sejak dini, yang menjadi fondasi kemandirian pangan,” jelasnya.

Baca juga: BRIN fokus riset pangan, bencana, dan teknologi strategis pada 2026

Akmal Malik yang juga merupakan salah satu Pembina YSPN itu juga mengatakan, Buleleng dipilih sebagai percontohan di Pulau Dewata karena dinilai memiliki semangat dan potensi yang besar.

Gerakan serupa sebelumnya telah dilakukan di lima provinsi lain.

"Kami ingin budaya menanam menjadi nilai baru di Bali. Di samping budaya seni yang sudah mendunia. Ini untuk menjawab kebutuhan pangan yang berkelanjutan,” kata Akmal Malik.

Sebagai dukungan, YSPN memberikan bantuan 200 bibit tanaman kepada masing-masing dari keempat sekolah tersebut. Bibit-bibit ini akan ditanam dan dirawat oleh siswa.

Baca juga: Hadiri WEF, Danantara siap tawarkan investasi sektor ketahanan pangan

Selain itu, diberikan juga bantuan sosial berupa beras 5 kilogram untuk siswa dari keluarga kurang mampu di setiap sekolah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng Gede Suyasa menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah.

Ia mendorong partisipasi aktif setiap siswa. Prinsipnya adalah satu siswa, satu bibit. Dengan sekitar 1.200 siswa di lokasi ini, akan terkumpul 1.200 tanaman yang dirawat.

"Ini kontribusi nyata untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan lokal,” ujarnya.

Baca juga: Zulhas dorong peran Kota Subulussalam dalam rantai pasok Aceh-Sumut

Pihaknya memberikan contoh harga cabai yang sering melonjak tinggi saat hari raya keagamaan di Bali, yang bisa ditekan dengan gerakan produktif seperti ini. Jika siswa bisa panen dari tanaman mereka sendiri, tekanan harga di pasar dapat dikurangi.

Suyasa juga memastikan bahwa program ini tidak akan berhenti pada penanaman saja.

“Pemerintah Daerah, melalui dinas terkait dan dengan dukungan kelompok petani muda, akan melakukan pendampingan berkelanjutan hingga tanaman menghasilkan,” imbuh Suyasa.

Gerakan tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan baru di kalangan pelajar. Sekaligus menjadi model yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di seluruh Bali guna mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang dimulai dari lingkungan pendidikan.

Baca juga: Menko Pangan tinjau percepatan pemulihan pangan pascabanjir Aceh

Pewarta: Rolandus Nampu/IMBA Purnomo
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |