Jakarta (ANTARA) - Pagi di sudut Kemang, Jakarta Selatan, saat perkantoran menikmati libur panjang tiga hari, menjadi momen bagi para pecinta hewan untuk mengalihkan perhatian mereka pada satu hal yang tak kalah penting, yakni kesehatan binatang kesayangan.
Ruang tunggu sebuah rumah sakit hewan pun perlahan dipenuhi, bukan hanya oleh langkah kaki dan dengusan anjing yang gelisah, tetapi juga oleh obrolan ringan, senyum cemas, dan rasa peduli yang terasa di udara.
Ada percakapan yang mengalir pelan, tentang jadwal vaksin berikutnya, tentang makanan baru yang katanya lebih ramah pencernaan, tentang dokter yang dianggap paling telaten menghadapi kucing yang sulit disentuh.
Di sudut ruangan, layar digital menampilkan daftar pemeriksaan, hari itu, dari kontrol jantung, hingga pembersihan gigi. Tidak ada kesan darurat. Hal yang terasa justru rutinitas.
Di kota-kota besar, perubahan budaya sering tidak datang dalam bentuk slogan atau kampanye besar, melainkan tumbuh dari kebiasaan kecil yang diulang dan perlahan diterima sebagai hal wajar.
Cara masyarakat memandang rumah sakit hewan adalah salah satunya. Jika dulu tempat ini identik dengan ruang terakhir, ketika hewan peliharaan sakit, kini rumah sakit hewan hadir sebagai bagian dari kalender hidup, sejajar dengan klinik keluarga, pusat kebugaran, atau ruang kerja bersama.
Perawatan hewan tidak lagi dipahami sebagai kewajiban sesaat, melainkan sebagai pilihan hidup.
Kemang menjadi cermin yang cukup jujur untuk melihat pergeseran ini. Kawasan yang lama dikenal sebagai simpul gaya hidup urban itu tidak hanya menawarkan kafe dan ruang publik, tetapi kini mulai memperlihatkan bagaimana kesehatan hewan masuk ke dalam percakapan sosial.
Pemilik hewan saling bertukar rekomendasi dokter, membandingkan layanan sterilisasi, hingga mendiskusikan hasil pemeriksaan USG, seolah sedang membicarakan hasil medical check up mereka sendiri.
Dari ruang tunggu, obrolan itu berpindah ke grup percakapan dan media sosial, memperpanjang usia cerita tentang perawatan hewan di ruang digital.
Peresmian rumah sakit hewan di kota juga kerap menyerupai peristiwa sosial. Hadir perwakilan organisasi profesi, seperti Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dan Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia, pelaku industri kesehatan hewan, hingga figur publik.
Di sana, dunia medis, gaya hidup, dan budaya digital bertemu dalam satu ruang. Rumah sakit hewan tidak lagi berdiri sebagai fasilitas teknis semata, tetapi sebagai simpul interaksi sosial yang terus berkembang.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































