"Brain gain" di desa peri-urban untuk percepatan pembangunan

1 month ago 33
Fenomena brain gain di desa seputaran kota adalah sinyal perubahan besar dalam lanskap pembangunan Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Bertahun-tahun diskursus pembangunan Indonesia kerap diwarnai kekhawatiran terhadap fenomena brain drain. Istilah itu merujuk pada keluarnya orang-orang berpendidikan dan terampil dari desa ke kota besar bahkan ke luar negeri.

Desa digambarkan sebagai ruang yang kehilangan generasi muda, kehilangan inovator, dan akhirnya tertinggal dalam arus pembangunan nasional.

Dampak yang juga terasa adalah lahan pertanian yang banyak menganggur karena ditinggal pemuda-pemuda pintar ke kota.

Namun, di balik narasi kehilangan tersebut, kini muncul fenomena yang jarang dibicarakan tetapi justru menyimpan peluang besar yaitu brain gain di desa-desa seputaran kota, khususnya di kawasan peri-urban seperti Jabodetabek, Bandung Raya, Gerbangkertosusila, hingga Medan dan Makassar.

Kini desa-desa di seputaran kota besar menjadi tujuan hunian baru bagi kelompok masyarakat terdidik seperti profesional muda, akademisi, ASN, pekerja kreatif, teknokrat, hingga diaspora internal dari desa-desa jauh yang sebelumnya bermigrasi ke kota.

Dorongan harga lahan kota yang semakin mahal, kemacetan, kebutuhan kualitas hidup yang lebih baik, serta fleksibilitas kerja berbasis digital pasca-pandemi COVID-19 telah mendorong relokasi hunian ke desa-desa peri-urban.

Inilah titik balik penting ketika desa tidak lagi sekadar wilayah asal migrasi, tetapi juga wilayah tujuan bagi akumulasi modal manusia.

Fenomena brain gain bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Ia membawa serta pengetahuan, jejaring sosial, budaya kerja baru, literasi digital, dan cara pandang modern terhadap tata kelola, ekonomi, serta pelayanan publik.

Jika dikelola dengan tepat, brain gain di desa peri-urban dapat menjadi akselerator pembangunan desa yang jauh lebih cepat dibanding pendekatan konvensional berbasis bantuan fisik semata.

Pertama, brain gain membuka peluang transformasi tata kelola desa. Kehadiran warga dengan latar belakang pendidikan tinggi dan pengalaman profesional dapat memperkuat kapasitas kelembagaan desa.

Banyak di antaranya yang memiliki pengalaman bekerja dengan sistem perencanaan, penganggaran, manajemen proyek, hingga pengawasan berbasis data.

Ketika pengetahuan ini bersinggungan dengan pemerintahan desa, baik melalui peran formal sebagai perangkat desa maupun peran informal sebagai warga aktif, maka kualitas perencanaan pembangunan desa dapat meningkat signifikan.

Musyawarah desa bahkan rapat rukun tetangga dan rukun warga tidak lagi sekadar ritual administratif, tetapi ruang deliberasi yang kaya gagasan dan berbasis analisis.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |