BPBD Lampung: Awan Cumulonimbus tanda alam yang perlu diwaspadai

2 months ago 27
Kalau kita sudah melihat peristiwa awan berbentuk kembang kol di langit itu berpotensi membentuk angin kencang. Biasanya diiringi dengan suara gemuruh dan langit yang abu-abu...

Bandarlampung (ANTARA) - Analis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung Wahyu Hidayat mengimbau masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya bencana alam dengan mendeteksi perubahan cuaca melalui terbentuknya awan Cumulonimbus di wilayah itu.

"Untuk alam sebenarnya perubahannya dapat dideteksi dan ditandai. Kalau kita sudah melihat peristiwa awan berbentuk kembang kol di langit itu berpotensi membentuk angin kencang. Biasanya diiringi dengan suara gemuruh dan langit yang abu-abu, walaupun di saat itu hujannya tidak deras. Itu tanda-tanda alam yang bisa kita waspadai," ujar Analis BPBD Lampung Wahyu Hidayat di Bandarlampung, Senin.

Ia mengatakan masyarakat dapat menjadikan fenomena awan Cumulonimbus atau awan berbentuk kembang kol yang ada di langit sebagai penanda akan terjadinya bencana alam, seperti angin kencang, puting beliung, dan banjir.

Baca juga: BMKG ingatkan bahaya awan Cumulonimbus bagi nelayan & wisata bahari

"BPBD Provinsi Lampung pun mengimbau seluruh masyarakat Lampung juga mewaspadai perubahan cuaca menuju fase hidrometeorologi basah dan terbentuknya awan Cumulonimbus," katanya.

Menurut dia, fase hidrometeorologi basah tersebut periodenya sudah dimulai sejak Dasarian II Oktober tepatnya pada 11 Oktober 2025 dan terus berlanjut hingga Februari 2026.

"Kami mencatat beberapa daerah sudah mengalami sejumlah bencana dan beberapa peristiwa yang mengarah menuju kepada terjadinya bencana," ucapnya.

Baca juga: Bahaya awan cumulonimbus, ancaman serius bagi penerbangan

Pihaknya pun meminta masyarakat yang ada di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Tanggamus, Pesisir Barat, dan di sebagian Kabupaten Lampung Selatan, serta sejumlah daerah lainnya, agar tetap waspada akan terjadinya bencana alam.

"Tentu gejala-gejala ini harus meningkatkan kesiapsiagaan kita, bahwa kita berada di sekitar zona bahaya, dan berada di sekitar potensi bencana yang bisa muncul kapan saja. Oleh karena itu kesiapsiagaan masyarakat dituntut untuk lebih ditingkatkan," ucapnya.

Menurut dia, yang pertama dapat dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi curah hujan yang tinggi yaitu selain mewaspadai bencana dengan mendeteksi adanya awan Cumulonimbus, juga harus memperhatikan info BMKG mengenai situasi cuaca hari ini.

Baca juga: BMKG: Waspadai angin kencang akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus

Pewarta: Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |