Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan terorisme masih menjadi ancaman global yang persisten dan adaptif di ruang digital.
Saat menjadi pembicara dalam diskusi panel di Jakarta, Rabu (18/2), Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Eddy Hartono mengatakan terorisme merupakan perhatian serius masyarakat internasional karena sifatnya yang terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.
"Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai bahwa terorisme ini tetap menjadi ancaman global," kata Komjen Pol. Eddy, seperti dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Dia menjelaskan PBB menggunakan bahasa persisten dan adaptif dalam artian jaringan terorisme tetap menjadi bahaya laten, ancaman terus menerus, dan menyesuaikan dengan perkembangan kekinian sehingga pola gerak strateginya menyesuaikan.
Dengan begitu, kata dia, apabila dahulu strateginya menggunakan fisik dengan memainkan berbagai media informasi, seperti membentuk selebaran, majalah untuk memberikan propaganda, hasutan, dan sebagainya, sekarang mereka beralih ke ruang digital.
Eddy menyebutkan terdapat transformasi pergerakan kelompok terorisme global, di mana menjadi terdesentralisasi dari yang sebelumnya komando terpusat dan hierarki, menjadi bergerak di ruang digital dari sebelumnya penguasaan teritorial, serta menjadi bersifat lone wolf atau sel-sel mandiri dari yang awalnya terorganisir.
Lebih lanjut, dirinya menekankan Indonesia telah mengambil langkah strategis dalam merespons dinamika ancaman tersebut dengan mengacu pada strategi global yang ditetapkan PBB.
Adapun Indonesia melaksanakan empat pilar yang menjadi kebijakan atau global strategy counter terorism yang dicanangkan oleh PBB, sehingga pascatragedi Bom Bali 1, Indonesia sudah membuat regulasi walaupun melalui peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu).
"Kemudian, dibuat pula berbagai lembaga untuk menangani antiteror, yang salah satunya guna menjabarkan empat pilar yang termasuk ke dalam UN Global Counter Terorism Strategy alias Strategi Kontra Terorisme Global PBB," ucap dia.
Keempat Strategi Kontra Terorisme Global PBB dimaksud meliputi mengatasi kondisi yang mendorong penyebaran terorisme, mencegah dan memerangi terorisme, membangun kapasitas negara dan memperkuat peran PBB, serta menjamin penghormatan terhadap hak asasi manusia dan supremasi hukum.
Ia menambahkan pendekatan penanggulangan terorisme tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga mengedepankan aspek pencegahan melalui penguatan dialog dan kajian mendalam terhadap akar permasalahan.
Begitu pula dalam konteks pencegahan terhadap ekstremisme berbasis kekerasan, sambung Eddy, yaitu tujuh pilar, di mana setiap negara memang harus terus berdialog, khususnya dalam kontra-terorisme, serta mengkaji latar belakang terjadinya terorisme.
Ketujuh pilar dalam konteks pencegahan terhadap ektremisme berbasis kekerasan terdiri atas kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, deradikalisasi, penegakan hukum, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat, kerja sama dan kemitraan, serta kerja sama internasional.
Tidak hanya di tingkat domestik, Kepala BNPT menyampaikan Indonesia juga aktif memperkuat kolaborasi global, di mana pengalaman empiris Indonesia dalam menangani terorisme menjadi rujukan bagi berbagai negara.
"Beberapa kerja sama internasional yang terjadi karena kelebihan Indonesia dalam menangani secara empiris, sehingga banyak negara yang belajar dari Indonesia tentang bagaimana strategi melakukan penanggulangan terorisme," ungkap Eddy menambahkan.
Diskusi panel tersebut bertajuk Kewaspadaan Nasional pada kegiatan Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N), yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
Melalui forum strategis P4N Lemhannas yang berlangsung selama kurang lebih 5 bulan dan 15 hari, serta diikuti peserta dari unsur TNI, Polri, ASN, dan Non-ASN, Eddy berharap terbangun pemahaman komprehensif mengenai kewaspadaan nasional, khususnya dalam menghadapi ancaman terorisme yang kian kompleks dan multidimensi.
Kehadiran Kepala BNPT dalam forum tersebut pun sekaligus menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan nasional serta memastikan upaya penanggulangan terorisme berjalan secara terintegrasi, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan lingkungan strategis global.
Baca juga: BNPT ungkap 230 orang ditangkap karena danai kelompok teroris
Baca juga: BNPT: FKPT perlu diperkuat agar deteksi potensi dini ancaman terorisme
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































