Kota Bandung (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebagian besar wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau yang diprediksi datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Vivi Indhira mengatakan musim kemarau sudah mulai terjadi bulan April ini di wilayah Karawang tengah, Subang tengah, serta sebagian wilayah Indramayu.
"Sebanyak 56 persen wilayah di Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei," katanya di Bandung, Selasa.
Ia menjelaskan, wilayah lain seperti sebagian besar Kabupaten Bogor, Sukabumi utara, Cianjur tengah, hingga Kota Bandung diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Juni.
Vivi mengatakan, secara keseluruhan sekitar 66 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami musim kemarau lebih cepat dibandingkan kondisi normal, sementara 25 persen sesuai kondisi normal dan 7 persen lainnya lebih lambat.
Baca juga: Hadapi musim kemarau panjang, BPBD DKI fokus ketersediaan air bersih
BMKG juga memprediksi kondisi musim kemarau tahun ini cenderung kering, dengan sekitar 93 persen wilayah mengalami kemarau di bawah normal.
Ia menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus di sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat, sementara sebagian kecil wilayah lainnya mengalami puncak pada Juli dan September.
"Wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang atau lebih lama dari biasanya," kata dia.
BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak kekeringan dengan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, seperti waduk dan embung, serta melakukan penghematan penggunaan air.
Untuk sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan kalender tanam dan menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan.
"Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lokal," kata dia.
Baca juga: Kementerian PU siapkan 400 pompa air dukung pertanian saat kemarau
Baca juga: BMKG: Kemarau 2026 lebih kering dibanding rata-rata selama 30 tahun
Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































