Jakarta (ANTARA) - PT Blue Bird Tbk menilai transportasi umum memiliki potensi besar sebagai medium promosi ekonomi kreatif (ekraf) lokal, seiring perubahan perilaku generasi muda yang tidak lagi memandang mobilitas hanya sebagai perpindahan dari satu titik ke titik lain.
Chief Marketing Officer PT Blue Bird Tbk, Monita Moerdani mengatakan kolaborasi kreatif Bluebird Group dengan intellectual property (IP) lokal Tahilalats menjadi salah satu upaya perusahaan menjawab tantangan tersebut, sekaligus memperluas penetrasi pasar ke segmen generasi muda.
“Kita harus mengakui ada generasi yang tidak tumbuh bersama Bluebird seperti generasi sebelumnya. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita menerjemahkan nilai trust, kenyamanan, dan reliability Bluebird dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian generasi masa kini,” kata Monita di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, perubahan preferensi konsumen, khususnya generasi Z dan generasi setelahnya, membuat fungsi transportasi berkembang menjadi bagian dari ekspresi gaya hidup dan nilai yang mereka anut.
Baca juga: Bluebird dan Tahilalats kolaborasi kreatif perluas penetrasi pasar
Dalam konteks tersebut, transportasi umum dinilai dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan dan mempromosikan karya kreatif lokal.
“Buat generasi muda, mobilitas itu bukan cuma dari titik A ke titik B. Apa yang mereka pilih juga menjadi cerminan gaya dan value mereka. Kalau kita tidak hadir dalam percakapan keseharian mereka, bagaimana caranya kita bisa dipilih,” ujarnya.
Monita menjelaskan, Bluebird memandang perannya tidak hanya sebagai penyedia jasa transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan dan cerita keseharian masyarakat Indonesia sejak lama.
Baca juga: Menyusuri 50 tahun perjalanan Bluebird mengabdi pada negeri
Oleh karena itu, kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif lokal menjadi cara untuk menjaga relevansi sekaligus menciptakan koneksi yang lebih humanis lintas generasi.
Dalam kolaborasi dengan Tahilalats, Bluebird melihat adanya kesamaan semangat untuk terus berevolusi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Ia menilai Tahilalats sebagai IP lokal yang konsisten melakukan pembaruan pendekatan kreatif sehingga tetap relevan di berbagai generasi.
Baca juga: Kemenekraf jadikan Tahilalats Station 2026 etalase IP Indonesia
“Waktu memilih kolaborator, kami tidak mulai dari mau bikin aktivitas apa, tapi dari siapa yang bisa menjadi pintu masuk ke segmen baru. Kami melihat Tahilalats terus melakukan rejuvenasi dan mencoba cara-cara baru, dan spirit bisnisnya sejalan dengan kami,” kata Monita.
Lebih lanjut, ia menuturkan filosofi dasar Bluebird yang terinspirasi dari konsep “Bird of Happiness” menjadi landasan dalam menggandeng mitra kreatif.
Melalui kolaborasi tersebut, Bluebird ingin menghadirkan kebahagiaan tidak hanya lewat layanan transportasi, tetapi juga melalui pengalaman kreatif yang relevan dengan masyarakat.
“Kami memang ingin berbagi kebahagiaan lewat setiap perjalanan. Tapi untuk penetrasi yang lebih luas, cara itu saja tidak cukup. Kami butuh partner yang lebih ekspresif dan berpengalaman dalam menerjemahkan kebahagiaan secara kreatif,” ujarnya.
Baca juga: DKI masuk tiga besar investasi dan ekspor ekonomi kreatif nasional
Ia menambahkan, karya-karya kreatif seperti komik dan cerita visual memiliki kekuatan untuk membangun kedekatan emosional dengan publik.
Humor dan cerita keseharian yang diangkat dinilai mampu menciptakan pengalaman yang membekas dan relevan, sehingga efektif menjadi medium promosi bagi ekraf lokal.
Melalui kolaborasi ini, ia berharap transportasi umum tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga sebagai platform yang membuka ruang lebih luas bagi talenta dan karya kreatif lokal untuk hadir di tengah aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Cerita-cerita kreatif itu bisa bikin orang tertawa karena relate dengan keseharian mereka. Di situlah kami melihat potensi besar transportasi umum sebagai medium kolaborasi kreatif,” pungkas Monita.
Baca juga: Instalasi imersif Tahilalats dinilai dorong IP lokal naik kelas
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































