Jakarta (ANTARA) - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat adanya lonjakan investasi di sektor hilirisasi yang mencapai Rp150,6 triliun atau naik 64,6 persen secara tahunan di periode yang sama (year on year/yoy).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, menyampaikan investasi yang masuk ke sektor hilirisasi ini berkontribusi 30,6 persen terhadap total investasi triwulan III yang mencapai Rp491,4 triliun.
Adapun investasi hilirisasi terbesar berasal dari mineral yang mencapai Rp97,8 triliun, hilirisasi perkebunan dan kehutanan Rp35,9 triliun, investasi hilirisasi sektor minyak dan gas bumi Rp15,4 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp1,5 triliun.
Sementara wilayah dengan investasi hilirisasi tertinggi yakni Sulawesi Tengah Rp28,7 triliun, Nusa Tenggara Barat (NTB) Rp14,1 triliun, Jawa Barat Rp15 triliun, Maluku Utara Rp14,3 triliun, dan Jawa Timur Rp9,8 triliun.
Lebih lanjut, BKPM mencatat bahwa realisasi investasi bidang hilirisasi pada Januari-September 2025 mencapai Rp431,4 triliun, naik 58,1 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan dominasi hilirisasi di proyek mineral dan perkebunan.
Investasi terbesar tetap berada di Sulawesi Tengah Rp84,2 triliun, Maluku Utara Rp48,2 triliun, Jawa Barat Rp43,7 triliun, NTB Rp32 triliun, serta Jawa Timur Rp28 triliun.
"Tetap memang masih didominasi oleh hilirisasi mineral, dalam hal ini nikel. Karena kita memang penghasil, reserve nikel terbesar," ujar Rosan.
Dia menilai capaian ini menjadi bukti komitmen Indonesia dalam memperkuat industrialisasi berbasis sumber daya alam serta mendukung transisi energi dan ekonomi hijau.
Baca juga: Rosan nilai investasi dan SDM jadi kunci capai pertumbuhan 8 persen
Baca juga: Menggeser jantung ekonomi, menunaikan janji hilirisasi
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































