Jakarta (ANTARA) - Pengujung tahun 2025 akan dikenang sebagai salah satu periode paling memilukan dalam catatan sejarah kebencanaan Indonesia.
Ketika sebagian besar warga bersiap menutup tahun dengan harapan baru, tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, justru harus bergelut dengan amukan air yang tak terkendali.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda ketiga wilayah tersebut bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan ujian terhadap ketahanan nasional.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sebanyak 1.030 jiwa melayang, sementara 206 orang masih dinyatakan hilang. Luka fisik dialami, setidaknya oleh 7.000 warga, tapi luka psikologis dan ekonomi jauh lebih dalam dari itu.
Sebanyak 186.488 rumah warga rusak, dan sekitar 1.600 fasilitas publik, seperti sekolah, rumah sakit, pasar, dan gedung pelayanan publik, rusak berat.
Memahami banjir Sumatera akhir 2025 ini memerlukan kejujuran untuk melihat fenomena yang melampaui peristiwa bencana meteorologis.
Memang benar, di akhir tahun ini terjadi pembentukan siklon hebat di Selat Malaka yang dipicu oleh kenaikan suhu laut, menghasilkan curah hujan ekstrem, hingga volume air meningkat dan terjadilah banjir. Fenomena seperti ini telah diprediksi jauh–jauh hari sebagai bagian dari perubahan iklim dan krisis iklim.
Bukan peristiwanya yang menjadi fokus, tetapi dampak sosial ekologisnya yang perlu diantisipasi sejak awal. Tanpa antisipasi, semua peristiwa perubahan iklim benar-benar akan menjadi bencana sosial yang meruntuhkan ketahanan satu bangsa.
Banyak pihak menyebut bahwa deforestasi dan degradasi lahan telah merampas kemampuan alam di tiga wilayah tersebut untuk menyerap air hujan, apalagi dengan volume tinggi. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai spons raksasa yang menyerap dan mengatur aliran air, kini telah banyak beralih fungsi menjadi lahan pertambangan dan perkebunan monokultur.
Akibatnya, ketika hujan ekstrem turun, tidak ada lagi vegetasi yang mampu menahan laju air dan menjaga struktur tanah, sehingga yang terjadi adalah banjir bandang yang membawa material kayu berdaya hancur bagi apapun yang berada di lintasan alirannya.
Kondisi di Sumatera ini mengingatkan kita pada malapetaka serupa yang menimpa Pakistan pada 2022 yang mengalami banjir besar, menenggelamkan sekitar sepertiga wilayah negara tersebut. Selain curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, deforestasi di wilayah hulu dan pengelolaan sungai yang buruk memperparah dampak bencana. Lebih dari 1.700 orang meninggal dunia dan puluhan juta lainnya terdampak.
Baca juga: Kolaborasi ditekankan tingkatkan ketahanan nasional kebencanaan
Baca juga: Legislator: Tahun 2026 banyak pekerjaan perlu diselesaikan secara serius
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































