Kendari (ANTARA) - Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Wilayah Kerja Sulawesi Tenggara (Sultra) segera melakukan evakuasi terhadap bangkai paus sperma yang terdampar di Pantai Desa Totobo, Kabupaten Kolaka dengan cara ditarik ke laut lepas.
Penanggung Jawab BPSPL Wilayah Kerja Sultra Jufri dihubungi di Kendari, Rabu, menyampaikan bahwa langkah penarikan ke tengah laut diambil untuk meminimalisasi dampak pencemaran udara di sekitar pemukiman warga.
"Rencananya bangkai paus tersebut akan ditarik ke tengah laut. Nanti di sana akan diikat menggunakan jangkar di area gusung yang dangkal agar tidak hanyut kembali ke daratan," kata dia.
Ia menjelaskan proses evakuasi saat ini masih menunggu ketersediaan armada kapal dengan kapasitas mesin besar.
Baca juga: Ikan paus ditemukan mati terdampar di Pulau Simeulue
Mengingat bobot mamalia laut tersebut besar, katanya, evakuasi tidak memungkinkan untuk dilakukan secara manual.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat untuk pengadaan kapal penarik. Jika armada telah tersedia, bangkai paus akan segera dipindahkan agar proses penguraian secara alami terjadi di laut lepas.
"Sudah dua hari bangkai paus ini berada di pantai. Seiring bertambahnya waktu, aroma busuk pasti mulai tercium. Evakuasi ke tengah laut adalah satu-satunya solusi untuk mengurangi bau yang sampai ke pemukiman," ujarnya.
Pihaknya tidak memiliki langkah mitigasi khusus untuk meredam bau selama bangkai masih berada di bibir pantai, sehingga percepatan evakuasi menjadi prioritas utama tim di lapangan.
Hingga kini, pihak berwenang terus memantau kondisi di Pantai Totobo sembari memastikan kesiapan teknis penarikan agar tidak menimbulkan kendala baru saat proses evakuasi berlangsung.
Baca juga: Warga temukan bangkai paus sepanjang 10 meter di Pantai Totobo Kolaka
Baca juga: Paus Balin sepanjang 7 meter ditemukan mati di Pantai Tulungagung
Pewarta: La Ode Muh. Deden Saputra
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































