Awal kebangkitan itu bernama huntara

1 week ago 7

Lubuk Basung (ANTARA) - Dalam ruangan hunian sementara (huntara) sederhana berukuran 6 meter X 3,6 meter, seorang pria paruh baya merebahkan badannya di atas kasur. Sesekali dia berbicara dengan anak di sebelahnya.

Suharmes, pria berumur 45 tahun, salah satu korban bencana alam banjir bandang dan longsor di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatara Barat, terlihat tersenyum dan langsung duduk ketika disapa Sabtu (24/1) malam.

"Silahkan masuk pak," ujarnya dengan ramah, sembari mendekati dan menyalami ANTARA di dekat pintu huntara yang baru saja diresmikan oleh pemerintah, Sabtu (24/1) sore.

Tepatnya Sabtu malam, sebagian besar para penyintas bencana alam di Salareh Aia mulai menempati huntara yang dibangun oleh Badan Naisional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagai representasi hadirnya negara untuk warga korban banjir.

Di bawah penerangan lampu, raut wajah pria itu terlihat bahagia, senyum simpul tak lepas, seolah tidak ada beban di pundaknya.

Duka mendalam akibat bencana alam yang membuat rumahnya hanyut dan runtuh, tanpa bekas. Rasa bahagia menempati huntara mengobati dukanya selama ini.

"Alhamdulillah pak, ini hari pertama kami menempati huntara. Sudah hampir dua bulan kami di tempat pengungsian," kata pria tiga orang anak ini, memulai pembicaraan.

Dia merasa bersyukur karena bisa menempati huntara yang berada di Lapangan Sepak Bola SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Palembayan, Kabupaten Agam, ini.

Kalau dia mengingat dampak bencana itu tentu masih ada duka yang membekas, namun baginya keselamatan keluarga adalah yang utama.

Persoalan rumah hanyut dan usahanya yang habis dilanda banjir itu dianggapnya cobaan yang datang dari Allah SWT.

"Mungkin ada hikmah dan maksud Tuhan di balik kejadian ini. Kita cuma menjalani dan harus tetap bersyukur,. Terpenting sekarang kami punya atap baru," ucapnya lirih, sambil tersenyum.

Pria yang menjual kebutuhan sehari-hari, dengan membuka warung di rumahnya, sebelum bencana, harus merelakan apa yang terjadi.

Dia menilai pemerintah telah berusaha keras membantu korban bencana alam. Berbagai bantuan terus mengalir, hingga saat ini.

Empati dan kepedulian pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, TNI, Pori, dan solidaritas relawan membuat mereka terenyuh dan tentunya berterima kasih.

"Bantuan yang datang tidak terhitung. Hari ini hunian sementara telah kita tempati. Alhamdulillah," katanya.

Dengan telah adanya hunian ini, ke depannya dia akan mulai melangkah dari nol untuk kembali membuka usahanya untuk menafkahi istri dan tiga anaknya.

Dia tidak menampik sedih menghadapi kenyataan bencana itu, namun hal itu tidak perlu terlalu diratapi. Dia dan pentintas lainnya harus bangkit. Kini, saatnya pulih dan bangkit yang dimulai dari fasilitas huntara ini.

Penyintas lainnya juga terlihat bahagia menempati huntara yang telah selesai dibangun.

Sabtu malam sebagian penyintas masih sibuk memindahkan barang, pakaian dan perlengkapan sehari-hari dari tempat pengungsian dari ruang kelas SDN 05 Kayu Pasak ke huntara.

Sementara anak-anak penyintas bencana asik bermain di halaman huntara dengan muka yang ceria.

Ada yang bermain mobil-mobilan, berlarian, hingga bersenda gurau sesama anak usianya.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |