Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan mengatakan alokasi program mandatori biodiesel 40 persen (B40) naik menjadi 15,646 juta kiloliter sepanjang 2026, guna memperkuat transisi energi rendah karbon.
Ernest di Jakarta, Rabu menjelaskan kenaikan tersebut relatif tipis sekitar 30.000 kiloliter dibandingkan alokasi 2025 yang tercatat sebesar 15,616 juta kiloliter, namun tetap menunjukkan konsistensi komitmen pemerintah menjaga keberlanjutan program biodiesel nasional.
"Di mana alokasi mandatori B40 dalam tahun ini (2026) hanya naik sekitar 30.000 kiloliter saja. Total jadi 15,646 juta kiloliter, hampir 15,65 juta kiloliter," kata Ernest dalam kegiatan buka puasa bersama awak media.
Dalam kegiatan buka puasa bersama awak media, Ernest yang juga dihadiri Asosiasi Perusahaan Oleochemical Indonesia (Apolin), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Ernest menegaskan alokasi itu mencerminkan stabilitas kebijakan mandatori B40 di tengah dinamika kebutuhan energi domestik.
Baca juga: Airlangga sebut B40 diterapkan tahun ini, B50 masih dikaji
Dari total alokasi tersebut, sebesar 7,4 juta kiloliter dialokasikan untuk sektor public service obligation (PSO) dan 8,1 juta kiloliter untuk non-PSO sebagai bagian distribusi biodiesel nasional.
Lebih lanjut dia menyampaikan realisasi program mandatori biodiesel B40 sepanjang 2025 mencapai 95,67 persen dari total alokasi nasional.
Capaian tersebut diperoleh setelah proses realisasi dan rekonsiliasi data bersama Direktorat Jenderal Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) hingga akhir Desember 2025.
Ernest menyebutkan dari total alokasi sebesar 15,616 juta kiloliter pada 2025, distribusi domestik biodiesel B40 terserap sebesar 14,94 juta kiloliter sepanjang tahun berjalan.
"Ini kita bisa buktikan, di mana data yang kami dapat setelah realisasi dan juga rekonsiliasi dengan pihak EBTKE, dari total alokasi 15,616 juta kiloliter di tahun 2025 sampai bulan Desember itu terserap distribusi domestik sekitar 14,94 juta kiloliter, artinya hampir 95,67 persen," katanya.
Angka 95,67 persen itu melampaui parameter keberhasilan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM yang menetapkan batas minimal 95 persen sebagai indikator program berjalan efektif.
Baca juga: Pemerintah mengalokasikan Biodiesel 2026 sebesar 15,65 juta kiloliter
Adapun rincian penyaluran menunjukkan sekitar 6,9 juta kiloliter dialokasikan untuk sektor PSO dan sekitar 8 juta kiloliter untuk non-PSO.
Dia menegaskan sepanjang 2025 tidak terdapat ekspor biodiesel sehingga seluruh produksi difokuskan untuk kebutuhan energi domestik nasional. Distribusi dilakukan melalui 80 titik serah, terdiri atas 30 titik kepada Pertamina dan 50 titik kepada badan usaha non-Pertamina.
Implementasi B40 juga memberikan dampak ekonomi signifikan berupa penghematan devisa sekitar Rp133,3 triliun sepanjang 2025.
Selain itu, peningkatan nilai tambah crude palm oil tercatat sekitar Rp20,9 triliun serta penyerapan tenaga kerja mencapai 1,8 juta orang.
Dari sisi lingkungan, pelaksanaan B40 mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 39,66 juta ton CO2 ekuivalen.
"Mungkin kita semua sudah mengetahui dari statemen dari Kementerian ESDM bahwasanya di tahun ini (2026), tetap stay di B40," kata Ernest.
Baca juga: Kementerian ESDM catat program B40 hemat devisa Rp93 triliun
Baca juga: Menteri ESDM: Implementasi B40 capai 6,8 juta KL pada semester I 2025
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































