Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IV DPR RI Slamet mengatakan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum untuk memperkuat pangan lokal yang telah berkontribusi pada ketahanan pangan masyarakat secara turun temurun.
“Sudah saatnya kita menghidupkan kembali gerakan kembali ke pangan nenek moyang. Pangan lokal bukan makanan kelas dua, tetapi sumber ketahanan pangan yang telah terbukti menopang kehidupan masyarakat secara turun-temurun,” kata Slamet di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan pangan lokal perlu kembali digalakkan menyusul angka ketidakcukupan konsumsi pangan dan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) di sejumlah provinsi, khususnya Indonesia bagian timur.
Secara nasional, terang Slamet, prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan tahun 2025 berada pada angka 7,89 persen. Namun, di Papua Tengah angka ketidakcukupan konsumsi pangan mencapai 32,30 persen dengan IKP 41,6.
Sementara itu, di Papua Pegunungan angkanya mencapai 28,72 persen dengan IKP 31,9, Papua 26,11 persen dengan IKP 57,4, Maluku 30,54 persen dengan IKP 57,17, dan Maluku Utara 27,83 persen dengan IKP 58,27.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan persoalan pangan di kawasan timur Indonesia bukan hanya soal produksi, melainkan juga akses, distribusi, dan kemampuan masyarakat memperoleh pangan yang cukup dan bergizi.
Menurut dia, salah satu penyebab kerentanan pangan adalah semakin tingginya ketergantungan masyarakat pada satu komoditas, yakni beras. Padahal, Indonesia memiliki beragam sumber pangan lokal.
“Seperti sagu, talas, umbi-umbian, dan pisang yang selama ratusan tahun menjadi sumber pangan utama masyarakat,” kata Slamet.
Legislator yang membidangi urusan pertanian itu lebih lanjut mengatakan, Pancasila mengamanatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bagi Slamet, makna keadilan sosial yang termaktub dalam sila kelima tersebut termasuk juga keadilan dalam pembangunan pangan yang menghargai potensi dan kearifan lokal.
“Karena itu, pengembangan pangan lokal harus menjadi bagian penting dari strategi menurunkan ketidakcukupan pangan dan memperkuat ketahanan pangan,” tuturnya.
Baca juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, KBRI Roma resmikan patung Soekarno
Baca juga: MPR : Pengamalan Pancasila perlu diperkuat hadapi tantangan global
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































