Jakarta (ANTARA) - Dinamika sosial-politik akibat bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia --terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat-- pada 2025, masih terasa. Kini, bencana alam juga meluas ke wilayah lainnya, seperti Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.
Sementara itu, pada 2025 juga terdapat dinamika kepemimpinan dalam satu ormas keagamaan yang belum mencapai final, meskipun kedua kubu yang bertikai telah bersepakat untuk berdamai. Konflik internal ini menjadi perhatian publik karena menyeret isu pertambangan dan tata kelola Sumber Daya Alam (SDA) oleh ormas keagamaan.
Entah satu kebetulan atau memang sudah takdir-Nya, dua peristiwa empirik tersebut saling berkaitan dan menjadi konsumsi publik, hingga awal 2026 ini. Hal ini membawa kita untuk mempertanyakan kembal dengan kritisi relasi antara keberagamaan dengan kondisi lingkungan.
Agama menjadi faktor yang penting dan berpengaruh dalam kehidupan pribadi maupun sosial-masyarakat (bangsa dan negara) di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan data survei global dari CEOWORLD 2024, yang menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-7 dunia sebagai negara paling religius.
Bahkan, menurut data dari Balitbangdiklat Kementerian Agama RI 2024, Indeks Religiusitas Indonesia pada tahun tersebut mencapai 70.91 atau termasuk dalam kategori "tinggi" dan mengalami peningkatan dibandingkan dengan pencapaian pada 2023.
Hal itu menandakan bahwa masyarakat Indonesia, secara umum masih memiliki cita-cita normatif menuju kesalehan, sehingga sering mempertimbangkan nilai agama dalam keputusan penting. Dari situlah agama, khususnya Islam sebagai mayoritas di Indonesia, masih menjadi kekuatan politik yang berpengaruh dalam setiap pengambilan kebijakan pemerintah di tingkat nasional maupun daerah.
Beberapa partai politik berbasis agama Islam, bahkan tetap eksis dengan konstituen menurut spektrum aliran masing-masing, misalnya PKB dan NU yang identik dengan pergerakan kaum Muslim tradisional (pesantren), sedangkan PAN dan Muhammadiyah identik dengan gerakan modernisme Islam.
Antara partai politik dan ormas keagamaan tersebut saling terikat kuat secara ideologis dan massa akar rumput, meskipun tidak terhubung secara struktural.
Baca juga: Bimas Islam: Ekoteologi harus jadi perilaku nyata sehari-hari umat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































