76 ribu kader Dasawisma di DKI siap sidak kekerasan berbasis gender

2 months ago 11

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 76.114 kader Dasawisma di DKI Jakarta siap menggelar sidak terkait tindak kekerasan berbasis gender atau kekerasan terhadap perempuan dan anak dari rumah ke rumah.

"Kita punya 76.114 kader Dasawisma orang yang bisa ketok pintu masyarakat untuk mengingatkan, mencegah dari kekerasan," kata Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta Iin Mutmainnah saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Sampai dengan saat ini, Dinas PPAPP DKI masih menyusun Instruksi Gubernur (INGUB) tentang Satuan Tugas (Satgas) Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA).

"Nanti, Satgas itu akan berbasis masyarakat, yang melibatkan seluruh komponen, termasuk di antaranya kader Dasawisma," ujar Iin.

Menurut dia, metode sidak door-to-door atau pintu-ke-pintu itu efektif untuk mengetahui kondisi rumah tangga serta unsur kekerasan berbasis gender yang terjadi.

Dia pun meminta kepada masyarakat agar memaksimalkan posko serta kanal pengaduan yang tersebar di wilayah DKI Jakarta.

"Ada 44 pos pengaduan di 44 kecamatan dan kami punya UPT PPA dengan hotline 24 jam gratis, dan juga kita punya website layanan puspa (puspa.jakarta.go.id), konseling keluarga. Itu bisa dimanfaatkan sebagai kanal pengaduan," tukas Iin.

Diketahui, sejak Januari hingga pertengahan November 2025, tercatat sebanyak 1.917 kasus kekerasan yang terlapor.

Baca juga: PPAPP DKI catat laporan kasus kekerasan perempuan-anak naik 10 persen

Dari jumlah tersebut, kasus yang paling mendominasi, yakni kekerasan seksual pada anak dengan 588 kasus atau 21,9 persen dan perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan 412 kasus atau 15,4 persen.

Kemudian, disusul kasus perempuan jadi korban kekerasan psikis 318 kasus atau 11,9 persen dan perempuan jadi korban kekerasan fisik sebanyak 276 kasus atau 10,3 persen.

Lokasi kekerasan terhadap perempuan dan anak itu paling banyak terjadi di dalam rumah dengan 1.132 kasus atau 56,3 persen dan di jalan dengan 135 kasus atau 6,7 persen.

Lalu, di kos-kosan 126 kasus atau 6,3 persen, di sekolah sebanyak 119 kasus atau 5,9 persen, di kontrakan 88 kasus atau 4,4 persen, serta di hotel 86 kasus atau 4,3 persen.

Untuk kategori terlapor pelaku kekerasan perempuan dan anak mayoritas adalah suami dengan 503 kasus atau sekitar 22,3 persen, teman sebanyak 351 orang atau 15, 7 persen, dan orang tidak dikenal sebanyak 281 kasus atau 12,6 persen.

Kemudian, kekerasan juga dilakukan oleh tetangga sebanyak 203 kasus atau 9,1 persen, ayah kandung sebanyak 197 kasus dengan 8,8 persen, dan pacar dengan 147 kasus atau sekitar 6,6 persen.

Sementara untuk jumlah korban kekerasan terhadap anak dan perempuan terbanyak berdasarkan kota atau KTP korban, yaitu di Jakarta Timur dengan 513 korban, Jakarta Selatan 337 korban, dan Jakarta Barat 316 korban.

Baca juga: DKI bagikan stiker anti kekerasan terhadap perempuan dan anak

Baca juga: Ribuan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi di Jakarta

Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |