Toyota harap penjualan mobil nasional 2025 tembus 800 ribu unit

1 month ago 26
Ya mungkin diusahakan close di 800 (ribu) ya. Kalau close 800 (ribu), mahkotanya (penjualan mobil terbanyak di Asia Tenggara) bisa diambil Malaysia,

Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam berharap penjualan mobil nasional hingga akhir tahun ini dapat mencapai angka 800 ribu unit.

“Ya mungkin diusahakan close di 800 (ribu) ya. Kalau close 800 (ribu), mahkotanya (penjualan mobil terbanyak di Asia Tenggara) bisa diambil Malaysia,” kata Bob dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Lebih jauh, ia mengatakan, jika penjualan mobil baru lebih rendah dari Negeri Jiran, akan ada dampak tertentu bagi ekosistem otomotif di Indonesia, khususnya dalam hal investasi.

“Kalau diambil Malaysia ya investasi nanti yang kita khawatirkan akan masuk ke sana,” ujarnya.

Baca juga: OLX ungkap mobil bekas paling laris di Indonesia sepanjang 2025

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil selama Januari-Oktober 2025 secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) hanya sebanyak 634.844 unit. Angka itu turun 10,6 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 711.064 unit.

Sedangkan secara retail sales (penjualan dari dealer ke konsumen) tercatat sebanyak 660.659 unit pada Januari-Oktober 2025. Angka itu turun 9,6 persen dari tahun lalu yang mencapai 731.113 unit.

Bob menilai stimulus relaksasi seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) di tahun 2021 sangat efektif dalam membentuk permintaan (demand creation) untuk mobil baru dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“PPN itu demand creation, itu otomatis mengguyur likuiditas ke masyarakat,” kata Bob.

Baca juga: Tuntutan Trump, Toyota rencanakan impor mobil AS ke Jepang

Ia mengatakan, insentif ini juga ada di sejumlah negara seperti Vietnam serta Malaysia, dan terbukti mampu meningkatkan daya beli dan perekonomian secara makro.

“Sangat, sangat (efektif), dan itu juga diterapkan di negara lain seperti Vietnam, yang menurunkan PPN, dan sekarang tumbuh ekonominya 78 persen. Malaysia juga memberikan insentif PPN. Jadi banyak negara-negara memberikan insentif dalam bentuk penurunan PPN,” kata Bob.

“Itu yang kita harapkan, karena kalau misalnya ekonomi meningkat, maka revenue pemerintah juga naik,” ujarnya menambahkan.

Baca juga: Toyota dikabarkan akan bangkitkan kembali MR2

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |