Jakarta (ANTARA) - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menjelaskan faktor psikologis yang membuat remaja cenderung mengikuti tren dan norma sosial di lingkungannya.
“Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan,” kata Shabrin kepada ANTARA, Kamis (29/1).
Sistem limbik adalah bagian otak yang mengatur reward system atau sistem penghargaan, sementara prefrontal cortex adalah bagian otak yang berfungsi menganalisis risiko dan mengambil keputusan. Pada remaja, sistem limbik berkembang lebih cepat dibanding prefrontal cortex, sehingga mereka lebih cenderung memilih perilaku yang memberi kesenangan, memicu adrenalin, atau rasa puas, meski risikonya belum dipikirkan matang.
Baca juga: Efek penyalahgunaan gas tertawa rusak saraf hingga picu ketergantungan
Selain faktor neurologis, proses pencarian identitas juga memengaruhi perilaku remaja. Pada masa ini, kebutuhan akan penerimaan sosial meningkat. Lingkungan dengan norma tertentu mendorong remaja menyesuaikan diri agar diterima. Kesadaran diri yang tinggi membuat mereka yakin orang lain memperhatikan penampilan, kesalahan, atau perilaku mereka. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan remaja mengikuti tren agar merasa setara dengan teman-temannya.
Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada itu menambahkan, remaja biasanya mencari penerimaan dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya, sekaligus kesempatan mencoba hal baru yang memicu adrenalin.
Baca juga: Pakar ingatkan waspada peningkatan penggunaan "gas tertawa"
“Saat remaja ada dalam lingkungan dengan norma tertentu, besar kemungkinan ia akan mencoba fit in dengan lingkungan tersebut,” ujar Shabrin.
Kemampuan coping emosional atau kemampuan mengelola stres dan emosi yang belum matang membuat sebagian remaja tertarik pada hal-hal yang dianggap dapat mengalihkan tekanan. Dalam kondisi ini, risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama.
Bagi Shabrin, tren dan popularitas juga menjadi cara remaja menegaskan identitas diri. Dengan menyesuaikan diri dengan kelompok sosial tertentu, mereka merasa cocok dan diakui dalam lingkungannya.
Baca juga: Pakar ingatkan bahaya menghirup "gas tertawa" bagi kesehatan
Baca juga: BNN: Penyalahgunaan "Whip Pink" rusak saraf permanen hingga kematian
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































