Serba-serbi gencatan senjata AS-Iran yang sisakan sejumlah ganjalan

4 hours ago 4
Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan

Jakarta (ANTARA) - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru setelah eskalasi memanas pada akhir Februari lalu.

Dalam waktu singkat, masyarakat dunia menyaksikan konflik lama yang tak pernah benar-benar padam itu kembali mendekati titik didih. Namun, di tengah ancaman konfrontasi terbuka, muncul jeda sempit berupa gencatan senjata sementara selama dua pekan yang membuka ruang bagi diplomasi.

Eskalasi bermula ketika Israel, bersama Amerika Serikat, melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari dengan target utama Ali Khamenei. Selain menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, rangkaian serangan tersebut juga menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa.

Merespons ancaman terhadap kedaulatannya, Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.

Washington kemudian meningkatkan kehadiran militernya, termasuk pengerahan armada laut dan sistem pertahanan udara. Sebagai balasan, Iran menaikkan status siaga militernya dan mengeluarkan peringatan keras terhadap potensi agresi lanjutan.

Situasi ini dengan cepat berkembang menjadi krisis regional. Jalur perdagangan energi global yang melintasi Selat Hormuz pun terancam, sehingga harga minyak sempat bergejolak.

Pemerintah Indonesia terus menyerukan dialog dan diplomasi sebagai jalan tengah, bahkan menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator.

Di tengah tekanan internasional, Amerika Serikat dan Iran pada Selasa (7/4) akhirnya sepakat menekan tombol jeda melalui gencatan senjata selama dua minggu setelah mediasi oleh Pakistan.

Namun, gencatan senjata ini sejak awal sudah dipandang rapuh. Iran masih menyimpan kecurigaan terhadap Amerika Serikat yang kerap melanggar kesepakatan. Sebaliknya, Amerika Serikat diduga memanfaatkan jeda ini untuk memperkuat posisinya di Selat Hormuz.

Berikut ANTARA merangkum perkembangan gencatan senjata sementara tersebut hingga hasil perundingan di Islamabad, Pakistan.

Baca juga: Survei: hampir 70 persen warga AS khawatir konflik dengan Iran

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |