Jakarta (ANTARA) - Pagi yang pucat sudah berlalu, ketika pemerintah menghapus semua alasan yang membuat anak miskin gagal sekolah.
Pemerintah tidak hanya menyediakan sekolah, tapi beserta asrama, kasur yang empuk untuk mimpi yang indah, makan enak dan rasa aman, serta layanan kesehatan yang baik. Terpenting, harga diri bagi anak-anak miskin. Itulah Sekolah Rakyat.
Sekolah Rakyat merupakan cermin jernih peran negara menjalankan instrumen keadilan. Bukti layanan publik dan keadilan sosial nyata. Pemerintah membentangkan titian dari titik paling lemah menuju masa depan.
Anak-anak yang masuk Sekolah Rakyat adalah wajah dari hasil perlawanan tangguh terhadap kerasnya hidup. Mereka sekarang mulai tampil membangun fragmen peradaban yang sesungguhnya pernah muncul dari tempat-tempat yang selama ini disembunyikan.
Menyahuti kondisi
Banyak sekali orang tak punya materi tapi memiliki hati dan keinginan untuk sekolah, lalu disahuti oleh Presiden Prabowo. Bisa jadi, ia telah membaca dengan seksama peta pendidikan Indonesia dan kondisi kemiskinan rakyat. Padahal, diyakini selama ini hanya orang susah yang bisa mengerti orang susah.
Sekolah Rakyat semestinya sudah ada sejak Orde Baru. Namun, baru sekarang terwujud karena mungkin tingkat kepekaan Presiden Prabowo yang kuat. Ini bukan pujian, sebab Prabowo tidak memerlukan itu dan saya bukan tukang puji pula.
Sekolah Rakyat jelas program strategis pemerintah. Tentu saja, ini kepastian akses pendidikan bagi generasi baru Indonesia, yang dilamun kemiskinan akut. Otak, perut dan gizi, menjadi perhatian.
Kadang, atau sering, keinginan anak-anak miskin untuk sekolah merobek kantong air mata orang tuanya. Keinginan anaknya berubah jadi bilah rotan yang melecut-lecut. Ayah dan ibu tak bisa tidur, bukan karena kasur yang tipis, melainkan kegelisahan dalam pikiran. Kini situasinya berubah, seperti sebuah lagu.
Baca juga: Seskab ungkap pesan Presiden Prabowo kepada siswa Sekolah Rakyat
Baca juga: Istana: Peresmian 166 Sekolah Rakyat momentum negara hadir
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































