Sebanyak 13 ribu siswa SD ikuti asesmen literasi dasar beragama

2 months ago 20
...Asesmen ini tidak sekadar mengukur kemampuan kognitif, tetapi juga menilai dimensi spiritual dan sosial-keagamaan

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 13.600 dari 16.376.085 siswa Muslim Sekolah Dasar (SD) di seluruh Indonesia mengikuti Asesmen Nasional Literasi Dasar Beragama (ANLDB) 2025 secara serentak yang diinisiasi Kementerian Agama pada 18 – 21 November 2025.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menjelaskan ANLDB menjadi instrumen penting dalam menilai keterpaduan antara pengetahuan, praktik ibadah, dan sikap keagamaan siswa. Selain itu, menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam memetakan tingkat literasi keagamaan peserta didik sejak dini.

“Asesmen ini tidak sekadar mengukur kemampuan kognitif, tetapi juga menilai dimensi spiritual dan sosial-keagamaan. Tujuannya agar pendidikan agama benar-benar membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai moderasi beragama,” ujar Suyitno di Jakarta, Selasa.

Menurut Suyitno, asesmen literasi dasar beragama merupakan bagian dari mendorong pembiasaan praktik keagamaan dan sikap sosial-keagamaan yang seimbang antara pengetahuan, pengamalan, dan akhlak.

“Kita ingin memastikan bahwa pendidikan agama menjadi ruang tumbuhnya nalar keberagamaan yang toleran, terbuka, dan berkeadaban. Inilah wajah pendidikan agama yang menyejukkan dan relevan dengan semangat kebangsaan,” kata dia.

Baca juga: Menag dorong pengembangan Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam M. Munir menegaskan pelaksanaan ANLDB dilakukan secara nasional mengukur tingkat literasi dasar keagamaan siswa SD/SDLB secara objektif dan menyeluruh mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Dikatakan Munir, Siswa yang mengikuti asesmen merupakan data sampling siswa SD yang mengikuti asesmen berasal dari 34 provinsi, 136 kabupaten/kota 680 SD dengan jumlah 20 siswa kelas 5 pada setiap SD yang dipilih secara acak melalui sistem.

“Kegiatan ini melibatkan siswa SD kelas 5 yang terpilih secara sampling. Dengan demikian, hasil asesmen dapat menjadi dasar pemetaan kompetensi literasi keagamaan yang objektif dan representatif,” kata Munir.

Ditjen Pendidikan Islam melibatkan Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Baca juga: Mendikbudristek paparkan peran guru membina pemahaman lintas agama

Pelibatan ini menjadi dasar pertimbangan kebutuhan legitimasi akademik, sehingga ANLDB sebagai kegiatan yang berbasis kajian ilmiah dan diakui secara nasional.

"Saya ingin apa yang kita lakukan ini pertama, memiliki basis ilmiah yang mumpuni. Itu wajib hukumnya. Kedua, hasilnya diketahui bukan hanya oleh internal Kemenag, tetapi juga pihak-pihak yang berkepentingan seperti Bappenas, KemenPAN-RB, dan DPR," kata Munir.

Dalam pelaksanaannya, kata Munir, Kemenag menerapkan dua metode asesmen. Pertama, tes tertulis. Peserta diberikan soal tertulis yang berisi pertanyaan pilihan ganda untuk mengukur pengetahuan, pemahaman konsep, dan kemampuan berpikir peserta.

Kedua, Tes Praktik Baca Al Quran. Proses membaca Al Quran untuk mendapatkan informasi mendalam tentang kemampuan peserta.

“Asesmen dilaksanakan dengan melakukan pengisian melalui aplikasi SIAGA dengan login menggunakan NISN. Sedangkan alternatif luring (kertas) untuk sampel di wilayah dengan keterbatasan internet,” kata Munir.

Baca juga: Institut Leimena integrasikan literasi keagamaan dan kurikulum cinta

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |