Samsung patenkan dua desain ponsel gulung

6 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Samsung baru saja mengajukan dua paten ponsel gulung, yang sebagian besar konsep desainnya memperluas layar ke arah luar saat dibuka. Namun desain kedua Samsung melangkah lebih jauh — layar sepenuhnya tersembunyi di dalam bodi saat tidak digunakan, dan hanya akan keluar ketika sisi perangkat ditarik terpisah.

Paten bukan berarti produk pasti dirilis. Namun divisi Samsung Display sebelumnya sudah menampilkan prototipe OLED gulung di CES dan MWC, jadi konsep ini bukan sekadar teori, lapor laman Gizchina, Jumat (22/5) waktu setempat.

Desain pertama menggunakan pendekatan ponsel gulung yang lebih umum. Dalam keadaan ringkas, bentuknya terlihat seperti smartphone biasa. Ketika ditarik secara horizontal, layar akan memanjang ke luar sehingga menciptakan area tampilan yang lebih lebar untuk multitasking, bermain game, atau menonton video.

Pada dasarnya, ini adalah upaya menghadirkan layar lebih besar saat dibutuhkan, seperti tujuan ponsel lipat, tetapi dicapai dengan cara menggulung, bukan melipat. Tidak ada engsel, tidak ada lipatan pada layar.

Baca juga: Samsung mungkin pakai panel layar dari BOE untuk Galaxy S27

Konsep kedua jauh lebih ambisius. Layarnya bukan hanya memanjang, tetapi benar-benar tersembunyi di dalam bodi saat tidak digunakan. Layar akan keluar ketika sisi perangkat ditarik, memperlihatkan panel besar dari perangkat yang awalnya tampak seperti balok tanpa layar.

Samsung menggambarkan konsep ini sebagai solusi perlindungan. Layar fleksibel yang disimpan di dalam bodi tidak mudah terkena goresan, debu, atau bekas benturan akibat penggunaan sehari-hari. Namun apakah hal itu benar-benar membuat umur layar jauh lebih panjang masih perlu dibuktikan melalui pengujian di dunia nyata.

Detail yang menarik selain bentuk perangkatnya adalah integrasi sensor. Kemampuan mendeteksi jarak dan kecepatan saat layar diperpanjang memungkinkan sistem operasi merespons secara lebih cerdas terhadap kondisi layar yang terbuka sebagian maupun sepenuhnya.

Ponsel yang dibuka setengah bisa menampilkan tata letak berbeda dibanding saat dibuka penuh. Aplikasi juga dapat menyesuaikan tampilan konten secara bertahap, bukan menunggu ukuran layar tertentu seperti pada perangkat saat ini.

Ini menjadi model interaksi yang lebih canggih dibanding ponsel lipat modern, yang umumnya hanya berpindah antara beberapa posisi tetap tanpa penyesuaian yang benar-benar fleksibel.

Baca juga: Samsung Galaxy Z Fold 8 dan Flip 8 berpotensi alami kenaikan harga

Mengapa Samsung masih mengeksplorasi teknologi ini?

Ponsel lipat memiliki masalah pada lipatan layar. Garis lipatan pada semua ponsel lipat model buku saat ini masih terlihat, terasa saat disentuh, dan bagi sebagian pengguna cukup mengganggu.

Ponsel lipat model clamshell memang lebih baik dalam hal ini, tetapi tetap membutuhkan engsel. Sementara itu, ponsel gulung dengan layar fleksibel yang tidak dilipat sama sekali dapat menghilangkan garis lipatan sepenuhnya, karena layar melengkung secara perlahan mengikuti gulungan, bukan tertekuk tajam di titik engsel.

Prototipe ponsel gulung milik Samsung Display yang sudah ada menunjukkan bahwa teknologi panelnya sudah cukup matang untuk dipamerkan ke publik. Jarak antara prototipe dan produk komersial memang masih membutuhkan banyak pekerjaan rekayasa, tetapi jaraknya semakin dekat.

Namun apakah konsumen yang baru mulai menerima ponsel lipat sudah siap untuk ponsel gulung masih menjadi pertanyaan pasar yang belum bisa dijawab Samsung hanya lewat pengajuan paten.

Baca juga: Samsung dikabarkan siapkan Galaxy S27 Pro dengan bodi ringkas

Baca juga: Galaxy S27 Ultra bakal alami perombakan besar pada desain dan baterai

Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |