Rindu tertahan di garis terdepan

3 days ago 3
Dalam logika kemanusiaan yang lahir dari bencana, kebaikan harus berputar, bukan berhenti pada diri sendiri. Solidaritas bukan hanya tentang berada di sisi keluarga, tetapi juga tentang memastikan keluarga lain bisa bertahan.

Gayo Lues, Aceh (ANTARA) - “Ger, kek mana nasib orang tua kita? Makan apa mereka di sana?” Rayyan berucap pelan, nyaris tertelan dengung genset dan bunyi logam yang beradu di tengah hari.

Gerry menoleh sekilas, mengusap keringat di dahinya, lalu menjawab setengah bercanda, setengah getir: “Ya kek orang-orang itu lah… makan nasi pakai indomie.”

Percakapan singkat itu lahir bukan di ruang rapat berpendingin udara, melainkan di atas tanah yang masih basah, di antara tiang listrik yang miring dan kabel-kabel yang terkulai seperti urat para pekerja yang lelah.

Di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, sisa-sisa bencana masih terasa pekat. Lumpur mengering membentuk retakan, batu-batu besar teronggok di pinggir jalan, dan beberapa rumah tampak kosong atau rata dengan tanah.

Rayyan berdiri di tengah semua itu. Mengenakan helm proyek putih yang menutupi sebagian wajahnya, rompi berdebu, dan sepatu boots yang masih menyimpan jejak tanah liat yang menempel sejak pagi.

Sebagai petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Blangkejeren, Gayo Lues, ia terbiasa bekerja di medan berat. Namun, bencana kali ini berbeda. Bukan hanya infrastruktur yang runtuh, melainkan juga perasaan aman banyak orang, termasuk dirinya sendiri.

Rayyan dan Gerry bukan orang Gayo Lues. Mereka berasal dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang, yang menjadi salah satu wilayah terparah dalam bencana ini. Ironinya, saat Rayyan sibuk menyalakan kembali lampu di rumah orang lain, kampung halamannya sendiri sempat terbenam dalam gelap dan lumpur.

Baca juga: Ketika iman tak ikut hanyut terbawa banjir

Hujan tiga hari tiga malam

Bencana itu datang setelah hujan turun tanpa henti selama tiga hari tiga malam. Warga setempat masih mengingat derasnya air yang tak kunjung reda, bunyi gemuruh dari perbukitan, dan bau tanah basah yang kian menyengat. Sungai meluap, tebing runtuh, jalan terputus, listrik padam total, dan sinyal telekomunikasi lenyap seketika.

Saat kabar bencana pertama kali sampai ke telinga Rayyan, ia tengah berada di Blangkejeren. Tanpa berpikir panjang, tangannya langsung meraih telepon genggamnya. Namun, layar hanya menampilkan “No Service”. Listrik padam, jaringan mati, dan jarak yang sebenarnya hanya ratusan kilometer terasa seperti tak terjangkau sama sekali.

Empat hari berikutnya menjadi masa yang berat. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.

Baca juga: Sejumlah jembatan di Aceh telah rampung, akses warga terhubung

Baca juga: Taruna Akpol selamatkan anak terseret arus di Aceh Tamiang

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |