Bali (ANTARA) - Di tengah pesatnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam industri pariwisata, sentuhan manusia dinilai tetap menjadi elemen utama dalam layanan wisata mewah.
Chief Distribution Officer HBX Group David Amsellem dalam ajang MarketHub Asia 2026 yang digelar di Bali, Rabu, menegaskan bahwa teknologi berperan sebagai pendukung, bukan pengganti hubungan personal antara penyedia layanan dan wisatawan kelas atas.
“AI tidak akan menggantikan agen perjalanan, namun, agen perjalanan yang didukung AI akan menggantikan agen perjalanan tradisional,” ujar Amsellem.
Karakteristik wisatawan mewah, kata David, berbeda dengan wisatawan dari segmen lainnya. Sebagian besar dari mereka masih mengandalkan agen perjalanan dan layanan concierge (staf) manusia karena mengharapkan perhatian personal, pemahaman mendalam atas preferensi, serta kemampuan mengantisipasi kebutuhan yang tidak selalu bisa diterjemahkan oleh sistem otomatis.
Baca juga: Pengalaman jadi pendorong utama perjalanan Gen Z
Menurut dia, teknologi berperan membantu menghilangkan beban pekerjaan administratif agar agen dan staf dapat fokus membangun relasi dengan klien.
Dalam ekosistem layanan mewah, peran staf manusia menjadi pembeda utama. Perusahaan menyediakan layanan concierge sepanjang perjalanan pelanggan, mulai dari sebelum keberangkatan hingga selama berada di destinasi.
Amsellem menekankan bahwa layanan yang mereka kembangkan bukan concierge berbasis AI, melainkan concierge manusia yang menghadirkan nilai tambah emosional dan empati.
Sebab, ekspektasi wisatawan mewah terus meningkat, terutama dalam hal personalisasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, jumlah data yang harus diproses sangat besar dan kompleks.
Di sinilah AI berfungsi sebagai alat bantu yang memungkinkan manusia memberikan layanan yang lebih presisi dan relevan.
"Tanpa dukungan AI, hampir mustahil bagi manusia untuk memproses seluruh data yang dibutuhkan guna menghadirkan pengalaman terbaik. Tapi, pada akhirnya, manusia tetap yang memberikan makna pada pengalaman tersebut,” kata Amsellem.
Selain itu, AI juga dinilai mampu menyederhanakan kompleksitas distribusi pariwisata yang terpisah-pisah sehingga perjalanan terasa lebih mulus bagi wisatawan. Teknologi dapat menangani proses pemesanan, integrasi layanan, hingga manajemen perjalanan, sementara sentuhan manusia menjaga kualitas interaksi dan kepuasan pelanggan.
Amsellem menambahkan bahwa tren wisata mewah global juga mengarah pada pengalaman yang lebih autentik, seperti live like a local, menjalani aktivitas selayaknya warga setempat, yang membutuhkan pemahaman konteks budaya dan preferensi personal.
Hal tersebut, kata dia, masih sulit digantikan sepenuhnya oleh mesin. Dengan demikian, ida melihat masa depan wisata mewah sebagai kolaborasi antara teknologi dan manusia.
"AI akan menjadi penggerak efisiensi dan personalisasi, sementara sentuhan manusia tetap menjadi inti yang membedakan layanan premium dari layanan massal di industri pariwisata global," kata Amsellem.
Baca juga: Menpar berdialog dengan industri untuk majukan pariwisata nasional
Baca juga: Connected travel jadi standar baru industri pariwisata
Baca juga: Kelompok kelas menengah jadi tulang punggung pariwisata nasional
Baca juga: Dongkrak devisa pariwisata, Prabowo dorong penataan kota dan desa
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































