Psikolog bagikan kiat cegah “victim blaming” di media sosial

5 hours ago 6

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psikolog membagikan sejumlah kiat yang bisa dilakukan dalam mencegah victim blaming atau perilaku menyalahkan korban tindak kekerasan terutama di media sosial.

Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, perlunya mengedepankan empati saat menyikapi kasus kekerasan apa pun jenisnya terutama kekerasan dalam relasi yang ramai diperbincangkan di media sosial, lantaran tidak mengetahui seperti apa kondisi yang terjadi sesungguhnya yang dialami korban.

“Tindakan baik, seperti berkomentar atau apa pun, minimal tidak memperparah kondisi korban. Pikirkan ulang ketika ingin mengetikkan sesuatu, baca kembali sebelum kita komen, mudah-mudahan akan mengurangi bagaimana kita bisa victim blaming terutama di media sosial,” kata Gisella ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Gisella menyampaikan hal yang bisa dilakukan sebelum menanggapi atau berkomentar di media sosial saat melihat kasus kekerasan terutama kekerasan dalam relasi yakni membaca kembali kalimat yang telah diketik untuk memastikan isinya pantas disampaikan.

Baca juga: Siklus kekerasan dalam relasi bisa menjerat korban

Kemudian, mencoba bayangkan ketika berada di pihak korban dan mempertimbangkan apakah komentar tersebut benar-benar dapat membantu.

Masyarakat juga perlu mengevaluasi perasaan pribadi yang muncul saat membaca suatu kasus baik di media sosial maupun di artikel berita agar lebih memahami respons yang akan diberikan.

“Apa yang saya merasa terkoneksi, misalnya dalam level ‘oh saya pernah tahu teman saya punya kondisi demikian, atau saya sendiri pernah berada dalam kondisi yang mirip’, sehingga kita lebih sadar diri ketika melakukan sesuatu termasuk berkomentar bisa lebih berempati, memberikan sesuatu yang tidak menambah kesengsaraannya si korban,” tuturnya.

Psikolog yang berpraktik di Jakarta itu​​​​​​​ juga menyoroti victim blaming kerap ditemukan di masyarakat, bahkan pada kasus yang sangat ekstrem di mana korbannya sudah jelas-jelas menderita, baik secara fisik maupun secara psikologis.

Victim blaming ini dipicu salah satunya karena tidak memahami dinamika yang dialami korban, terutama pada orang yang tidak pernah mengalami hubungan yang penuh kekerasan.

"Merasa bahwa 'kan logikanya kalau disakiti ya menjauh'. Tapi mereka kurang paham bahwa dalam konteks relasi yang berkekerasan, terdapat manipulasi psikologis, relasi yang dimonopoli ataupun dikuasai, didominasi oleh si pelaku dengan beragam motifnya bisa ekonomi, emosional, seksual, macam-macam. Itu yang mungkin kurang dipahami, kemudian banyak yang masih victim blaming,” kata dia.

Baca juga: Faktor-faktor yang bisa memicu perilaku menyalahkan korban kekerasan

Baca juga: Psikiater: Stigma patriarki bikin korban kekerasan seksual pilih diam

​​​​​​​

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |