Kemenpar bidik potensi 262 juta perjalanan wisata Muslim global 2030

5 hours ago 5
Karena semakin banyak sekarang ini wisatawan Muslim dari berbagai penjuru dunia itu punya keinginan untuk berwisata sebagaimana wisatawan umumnya.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan pengembangan pariwisata ramah Muslim sebagai salah satu penggerak sektor pariwisata nasional dengan memanfaatkan potensi pasar wisata Muslim global yang diperkirakan mencapai 262 juta perjalanan pada 2030.

Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata Masruroh mengatakan meningkatnya jumlah wisatawan Muslim dunia menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem pariwisata ramah Muslim, bukan sekadar menjadi tujuan wisata.

"Karena semakin banyak sekarang ini wisatawan Muslim dari berbagai penjuru dunia itu punya keinginan untuk berwisata sebagaimana wisatawan pada umumnya, tetapi ada yang tidak bisa ditawar adalah bagaimana mereka bisa difasilitasi ibadahnya," kata Masruroh dalam acara Islamic Finance Dialogue, di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan konsep pariwisata ramah Muslim tidak terbatas pada penyediaan makanan halal, melainkan mencakup seluruh ekosistem perjalanan wisata, mulai dari transportasi, akomodasi, fasilitas ibadah, hingga pengalaman wisata yang tetap memungkinkan wisatawan menjalankan kewajiban agamanya.

"Dari sini kita tahu bahwa halal itu tidak hanya makanan. Halal yang kita sedang bicarakan ini adalah ekosistem, adalah gaya hidup. Meliputi semuanya dari mulai wisatawan itu mau berangkat dari tempat tinggalnya, menuju destinasi, sampai pengalaman yang akan disebarkan ketika mereka kembali ke daerahnya," ujarnya.

Menurut Masruroh, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor tersebut, karena menyumbang sekitar 11,3 persen populasi Muslim dunia, 17 persen populasi Muslim Asia, dan 86 persen populasi Muslim ASEAN.

Selain itu, terdapat 19 provinsi dengan populasi Muslim di atas 90 persen yang dinilai mendukung pengembangan destinasi, produk, dan layanan wisata ramah Muslim.

Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI), Indonesia juga menempati peringkat kedua destinasi wisata Muslim dunia setelah Malaysia. Penilaian dalam indeks tersebut mencakup aspek akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

Ia mengatakan Indonesia dan negara Asia lainnya juga mendapati dampak saat ini dimana terjadi pergeseran (shifting) pergerakan wisatawan Muslim akibat dinamika geopolitik global.

Hampir 128 juta kedatangan wisatawan Muslim dari total 616 juta kedatangan wisatawan global. Artinya, lebih dari 20 persen wisatawan yang datang ke Asia merupakan wisatawan Muslim.

Kondisi tersebut menjadikan kawasan Asia sebagai pasar yang semakin strategis bagi pengembangan pariwisata ramah Muslim.

Meski demikian, Masruroh mengakui penguatan ekosistem halal masih menjadi tantangan.

Menurut dia, peningkatan sertifikasi halal bagi hotel, restoran, dan produk wisata, penyediaan fasilitas sanitasi yang sesuai kebutuhan wisatawan Muslim, serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai konsep pariwisata ramah Muslim menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dilakukan.

"Kita mengharap bahwa wisatawan Muslim itu tetap hadir menikmati keunikan dari destinasi itu tanpa meninggalkan kewajiban agamanya," katanya pula.

Di sisi pemasaran, Kemenpar juga mengalihkan fokus promosi ke pasar Asia, seperti Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia Timur, menyusul berkurangnya konektivitas penerbangan dari kawasan Timur Tengah akibat situasi geopolitik yang berdampak pada arus wisatawan internasional.

Baca juga: Kemenpar masifkan promosi wisata ramah Muslim ke wisatawan

Baca juga: Kemenpar bangun ekosistem halal berdaya saing lewat IIE 2026

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |