Bondowoso (ANTARA) - "Ayah, aku pingin mengadu, bercerita, dan lain-lain, seperti saat aku masih kecil, dulu. Tapi sekarang kita tidak dekat lagi yah. Terlalu banyak rasa takut di dalam hatiku. Cuma mau ngomong sepatah dua patah kata saja aku takut. Kenapa menyelesaikan sesuatu harus dengan kekerasan yah?"
Kalimat di atas merupakan isi dari surat seorang siswa di satu sekolah menengah atas (SMA) negeri di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, yang dibaca pada Jumat pagi, bersamaan dengan momen pengambilan rapor siswa.
Sejak awal pembacaan surat itu, suasana tampak hening. Sejumlah orang tua laki-laki menyimak pembacaan surat cinta anak kepada ayah ibunya itu. Saat pembagian rapor itu, hampir semua yang hadir adalah orang tua laki-laki, kecuali mereka yang berhalangan hadir dan diwakili oleh ibunya.
Pada momentum itu, Kepala SMA Negeri 2 Bondowoso mewajibkan orang tua laki-laki yang mengambil rekaman hasil belajar siswa dalam satu semester terakhir.
Sekolah negeri di tengah kota itu, sebelumnya telah membuat program menulis surat cinta untuk ayah dan ibu bagi para siswa yang hasilnya dinilai oleh guru. Surat terbaik di masing-masing kelas dibaca oleh anak di depan orang tua yang pagi itu hadir ke sekolah.
Di salah satu ruangan, siswa kelas 12 yang suratnya terpilih menjadi juara pertama, awalnya membaca surat dengan sangat lirih, sambil menahan rasa sesak tangis. Ia baru membaca surat dengan suara yang jelas ketika diingatkan oleh wali kelasnya.
Tak mampu menahannya, tangisan siswa pecah. Kemudian diikuti oleh tangisan tertahan dari ayahnya. Ayah dari siswa itu beberapa kali mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Suasana bertambah haru, ketika si anak selesai membaca surat, langsung mengampiri ayahnya. Keduanya berpelukan dalam tangis haru. Ciuman sayang pada kening si anak dilakukan, yang ketika mereka berada di rumah, jarang terjadi.
Beberapa siswa di kelas lain juga hampir sama, saat membaca surat cinta untuk orang tua itu. Misalnya, seorang anak berharap orang tuanya lebih sabar dalam mendidik anak, alias tidak suka marah-marah, sehingga si anak bisa lebih dekat dan bisa berbagi cerita pada ayah dan ibu mengenai kehidupan mereka sebagai gadis remaja.
"Aku berharap ayah dan bunda bisa hidup lebih lama untuk melihatku sukses dan membanggakan ayah dan bunda," demikian bunyi surat siswa lainnya.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































