Pokemon minta maaf soal rencana acara permainan di Kuil Yasukuni

3 days ago 5

Jakarta (ANTARA) - The Pokémon Company selaku perusahaan pengelola waralaba Pokémon menyampaikan permintaan maaf perihal rencana pelaksanaan acara permainan kartu Pokemon di Kuil Yasukuni, yang menuai protes karena dianggap melukai perasaan korban agresi Jepang pada masa lalu.

Menurut siaran Sky News, perusahaan telah membatalkan acara permainan kartu Pokemon yang rencananya dilaksanakan pada Sabtu (31/1) di Kuil Yasukuni di Tokyo.

Kuil itu dibangun untuk menghormati 2,5 juta korban perang Jepang, termasuk di antaranya para penjahat perang.

Negara-negara yang dulu menjadi sasaran agresi Jepang, terutama China dan Korea, melihat kunjungan ke kuil itu sebagai bukti kurangnya penyesalan atas masa lalu.

Publikasi China, People's Daily, menilai rencana pelaksanaan acara permainan Pokemon di Kuil Yasukuni melukai perasaan rakyat Tiongkok.

Media massa itu menyampaikan, "Perusahaan terkait harus bertanggung jawab secara sosial dan tidak meremehkan bobot sejarah yang berat atas nama hiburan."​​​​​​

Baca juga: Pokémon rilis dua gim baru

The Pokémon Company, afiliasi dari pembuat gim Jepang Nintendo, merespons kontroversi mengenai rencana pelaksanaan acara permainan kartu Pokemon dengan mengeluarkan permintaan maaf dalam bahasa Jepang dan China.

Perusahaan menyampaikan bahwa acara itu direncanakan secara pribadi oleh pemain kartu Pokémon bersertifikat untuk anak-anak, tetapi informasinya dibagikan di situs web resmi perusahaan.

"Acara ini seharusnya tidak diadakan sejak awal," kata perusahaan.

Mengenai pembagian informasi acara di situs web resminya, perusahaan menyampaikan bahwa kesalahan itu terjadi "akibat kurangnya pemahaman kami."

Perusahaan menyatakan bahwa acara itu kini telah dibatalkan dan informasi tentang acara itu di situs web perusahaan sudah dihapus.

Baca juga: Pokemon bakal rilis "Pokemon Pokopia" di Switch 2 pada 2026

Baca juga: Pokemon hadirkan kolaborasi spesial untuk laga timnas U-23 Indonesia​​​​​​​

Penerjemah: Abdu Faisal
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |