PMI ajarkan PHBS bagi anak disabilitas Ende, tumbuhkan kebiasaan sehat

7 hours ago 6

Jakarta (ANTARA) - Palang Merah Indonesia (PMI) melaksanakan kegiatan Promosi Kesehatan (Promkes) di SLB Negeri Ende, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) guna menumbuhkan kebiasaan dan pola hidup bersih sehat (PHBS).

Edukasi dikemas secara interaktif melalui praktik mencuci tangan, permainan, bernyanyi, dan aktivitas bersama. Pendekatan tersebut dilakukan agar pesan mengenai kebersihan dan kesehatan dapat diterima anak-anak SLB dengan cara yang menyenangkan.

Dalam keterangan di Jakarta, Minggu, Kepala SLB Negeri Ende Yulita Delima Dhambo mengatakan, pendampingan khusus dibutuhkan karena sebagian anak masih memerlukan bantuan dalam memahami dan membiasakan perilaku hidup bersih dalam kesehariannya.

“Setelah melihat layanan ini, memang anak-anak membutuhkan pendampingan secara khusus, misalnya dalam menjaga kebersihan. Yang mereka tahu biasanya hanya makan, minum maupun belajar. Dengan adanya kegiatan ini sangat bermanfaat karena membantu anak-anak belajar menjaga kesehatan,” ujar Yulita.

Dia menjelaskan, bagi anak-anak disabilitas di SLB Negeri Ende, belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Sebagian dari mereka juga menjalani keseharian di lingkungan yang sama dengan Yayasan Karya Dharma Panti Ji’e Pama Pawe, tempat anak-anak tinggal dan tidur sehari-hari.

Di lingkungan tersebut, katanya, keterampilan sederhana seperti menjaga kebersihan diri, mencuci tangan, mandi, hingga membantu aktivitas sehari-hari menjadi bagian penting yang perlu terus diperkenalkan dan didampingi.

Baca juga: Gubernur minta nakes terdampak gempa di Ende dapat perhatian khusus

Kegiatan diikuti oleh 28 anak disabilitas, terdiri dari 18 laki-laki dan 10 perempuan, serta melibatkan enam tenaga pendidik.

Yulita yang telah sekitar 20 tahun mendampingi anak-anak, termasuk anak-anak yang tinggal di panti, menjelaskan bahwa pembelajaran di SLB tidak hanya berfokus pada aspek akademik. Keterampilan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak menjalani kehidupan sehari-hari.

Terlebih setelah gempa, katanya, aktivitas anak-anak di panti lebih banyak diarahkan pada kegiatan keterampilan dan aktivitas yang membantu mengurangi rasa trauma, seperti menari dan bernyanyi.

“Di panti pascagempa, pembelajaran lebih banyak ke keterampilan. Anak-anak lebih banyak menari dan menyanyi untuk menghilangkan rasa trauma. Apa yang dilakukan PMI di sini juga sejalan dengan yang kami lakukan,” katanya.

Bagi Yani, siswi kelas 3 SMA di SLB Negeri Ende, lingkungan panti telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kelas 3 SD. Selain mengikuti pembelajaran, ia juga terbiasa membantu berbagai aktivitas sehari-hari di panti, mulai dari mencuci baju, mandi hingga membantu menyuapi makan.

Yani yang bercita-cita menjadi seorang suster mengaku senang ketika PMI hadir dan mengajak mereka belajar sekaligus bermain.

“Senang ada PMI di sini karena bisa belajar cara mencuci tangan. Saya juga senang bisa bermain dan menyanyi bersama kakak-kakak PMI dan teman-teman yang lainnya,” kata Yani.

Baca juga: PU pastikan keandalan fasilitas kesehatan di Ende dan Sikka pascagempa

Relawan PMI Kabupaten Ende Ketty Mukin mengatakan, kegiatan Promosi Kesehatan sebelumnya telah dilakukan PMI di sejumlah lokasi pengungsian dan tempat lainnya. Kali ini, PMI memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak disabilitas yang tinggal di lingkungan Panti Ji’e Pama Pawe.

“Kita sudah melakukan kegiatan promosi kesehatan di pengungsian dan di tempat-tempat lainnya. Saat ini kita fokus kepada kelompok rentan, khususnya adik-adik disabilitas,” ujar Ketty.

Selain Promkes, PMI juga memberikan Psychosocial Support (PSS) melalui permainan dan aktivitas bersama. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi, mengekspresikan diri, sekaligus mendapatkan suasana yang menyenangkan di tengah kondisi pascagempa.

Bagi anak-anak yang sehari-hari tinggal di panti, edukasi kesehatan bukan sekedar materi yang disampaikan sekali. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan diri, dan berinteraksi melalui kegiatan positif menjadi keterampilan yang perlu terus diperkuat melalui pendampingan sehari-hari.

Melalui Promkes dan PSS, PMI berupaya hadir tidak hanya untuk menyampaikan pesan kesehatan, tetapi juga mendukung anak-anak disabilitas agar tetap merasa aman, nyaman, dan mendapatkan pendampingan di tengah proses pemulihan pascagempa.

Baca juga: PMI NTB salurkan 300 paket bantuan untuk korban gempa di NTT

Baca juga: PMI kerahkan personel & tujuh ambulans bantu penanganan gempa di NTT

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |