Moskow (ANTARA) - Masalah pada jalur kereta api Jerman dan rendahnya permukaan air di Sungai Rhine membatasi kemampuan pemerintah Jerman untuk memasok bahan bakar ke negara tersebut.
Masalah itu menyebabkan kenaikan harga, kata CEO perusahaan minyak dan gas Austria OMV, Alfred Stern, pada Jumat.
"Permukaan air yang rendah menjadi masalah, hal itu membatasi kemungkinan pengangkutan barang di atas permukaan air yang rendah. Ada juga beberapa masalah perkeretaapian di Jerman," kata Stern.
"Semua ini membatasi rantai pasok, saya pikir inilah yang menyebabkan harga bahan bakar, dan khususnya harga distilat menengah berada pada level saat ini," kata dia.
OMV memasok minyak tanah ke Jerman secara langsung melalui jalur pipa ke Bandara Muenchen, untuk membantu memenuhi permintaan bahan bakar penerbangan di Jerman, imbuhnya.
Layanan operator kereta api Jerman, Deutsche Bahn, telah berulang kali terganggu dalam beberapa bulan terakhir karena sabotase, dan pada Juni, kereta api di seluruh negeri itu berhenti karena kegagalan sistem komunikasi.
Operator tersebut juga dikenal sering terlambat, dan Menteri Transportasi Patrick Schnieder mengatakan pada Maret bahwa hal itu bersama dengan isu infrastruktur yang ketinggalan zaman dapat menimbulkan ancaman bagi demokrasi negara tersebut.
Selain itu Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda melaporkan pada Rabu bahwa situasi logistik semakin memburuk akibat turunnya permukaan air Sungai Rhine ke titik terendah yang pernah tercatat.
Sementara itu, OMV sendiri merupakan salah satu perusahaan terbesar di Austria, yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi hidrokarbon di Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, dan kawasan Asia-Pasifik, dengan jumlah karyawan sebanyak 15.936 orang.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Gelombang panas picu lebih dari 900 kematian berlebih di Belanda
Penerjemah: Katriana
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































