Penjaga mimpi putra-putri penyintas bencana

2 hours ago 3
Ini adalah kewajiban kami sebagai dewan guru untuk memberi bimbingan atau pelajaran kepada anak. Lebih-lebih setelah bencana ini, kami harus membangkitkan anak

Aceh Timur, Aceh (ANTARA) - “Pak, besok kita belajar lagi, kan, pak?”

Begitu pertanyaan sederhana yang terucap dari bibir putra-putri penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Aceh Timur kepada relawan. Kalimat itu berhasil menggerakkan hati dan mengubah rencana.

Kala itu, relawan Atjeh Connection Foundation menggelar program sekolah darurat keliling di berbagai titik terdampak banjir, seperti Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur.

Kegiatan belajar mengajar melalui program sekolah darurat itu semula direncanakan untuk berlangsung sekali pada tiap kunjungan relawan, yang disertai penyaluran obat-obatan dan kehadiran tenaga medis.

Namun, permintaan sederhana nan polos dari para siswa yang terdampak banjir tersebut mengubah rencana para relawan. Mereka lantas berupaya agar kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat berjalan secara rutin, tiada lain dan tiada bukan demi menjaga mimpi generasi penerus bangsa.

Bencana banjir bandang yang berlangsung pada November 2025 memang meluluhlantakkan bangunan sekolah SDN Ranto Panyang Rubek, namun tidak dengan semangat para siswa untuk menempuh pendidikan.

Berdirilah tenda putih dengan papan penanda bertulis “Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek”. Menggantikan peran dari bangunan sekolah yang separuhnya telah hanyut terbawa air dan gelondongan kayu, menyisakan puing-puing yang terserak di tepi sungai.

Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Sabtu (21/2/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Tidak ada sekat yang membatasi antarkelas, tidak ada pula kursi untuk menjadi tempat duduk. Hanya ada garis hitam dari spidol yang digambar di papan tulis untuk membagi materi pembelajaran antara kelas yang satu dengan lainnya.

Siswa duduk beralaskan terpal hitam, dilindungi oleh tenda berwarna putih, dan menggunakan meja kecil yang seluruhnya merupakan pemberian dari relawan.

Kondisi pembelajaran jauh dari kata ideal, namun tidak mengecilkan mimpi-mimpi besar dari para penyintas.


Cita-cita dan harapan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |