Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menargetkan empat Sekolah Garuda baru yang dibangun dapat beroperasi pada tahun ini, atau pada tahun ajaran 2026/2027.
Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Sesditjen Saintek) M. Samsuri mengatakan tiga dari empat Sekolah Garuda baru di Belitung Timur (Bangka Belitung), Timor Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur), dan Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara) telah dalam proses pembangunan dan ditargetkan untuk dapat menampung siswa baru pada tahun ajaran mendatang.
"Ya, NTT dan Belitung itu sudah mulai konstruksi kemudian Konawe Selatan juga sudah selesai kontrak. Target kita terus mengupayakan empat, tapi yang saya kira sudah proses mulai dibangun ini tiga," katanya dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Adapun untuk satu Sekolah Garuda lain yakni Sekolah Garuda baru di Bulungan, Kalimantan Utara, Samsuri mengungkapkan saat ini sedang dalam proses lelang proyek.
"Diharapkan setidaknya empat sekolah ini di tahun ajaran 2026 itu sudah penerimaan peserta didik baru," ujarnya.
Baca juga: Presiden targetkan satu sekolah unggulan di tiap provinsi
Samsuri juga mengungkapkan pihaknya saat ini tengah merumuskan terkait persiapan pendaftaran siswa baru, baik metode maupun syarat yang diperlukan.
"(Pendaftaran) ini terbuka bagi masyarakat manapun. Nanti bisa berpartisipasi atau mendaftarkan anak yang berprestasi," ucap Samsuri.
Diketahui sebelumnya, Sekolah Garuda merupakan sekolah dengan tambahan penguatan kurikulum pra-universitas dengan sistem asrama setara jenjang SMA, yang mengutamakan pendekatan pembelajaran berbasis Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).
Para lulusan Sekolah Garuda dipersiapkan agar mampu melanjutkan studi ke perguruan tinggi top dunia di dalam dan luar negeri.
Baca juga: Memotong rantai kemiskinan melalui pendidikan inklusif
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan Sekolah Garuda dapat diakses oleh anak-anak dari semua kalangan, termasuk masyarakat miskin.
Sekolah ini menerapkan dua skema pembiayaan, yakni 80 persen siswanya akan mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah, sedangkan 20 persen sisanya berbayar.
"Agar mereka yang berprestasi, tetapi dari keluarga yang mampu berbayar tetap bisa bersekolah di Sekolah Garuda. Tapi tentu saja karena mereka mampu berbayar, tidak perlu negara membayar mereka," kata Stella Christie.
Baca juga: BRIN siapkan ekosistem riset inovasi tampung lulusan Sekolah Garuda
Baca juga: Pemerintah segera bangun gedung SMA Unggul Garuda di Soe NTT
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































