Nakhon Ratchasima (ANTARA) - Upacara pembukaan (opening ceremony) ASEAN Para Games 2025 Thailand sudah tersaji di 80th Anniversary Stadium, Nakhon Ratchasima, Selasa (20/1) malam.
Gegap gempita permainan cahaya lampu, kembang api, tarian, dan musik, mewarnai penyelenggaraan multievent olahraga disabilitas terbesar se-Asia Tenggara itu.
Pesan-pesan persahabatan antarnegara dan semangat inklusivitas atau kesetaraaan oleh Raja Thailand Maha Vajiralongkorn atau yang kerap dipanggil Rama X, juga sudah disampaikan.
Namun, yang nama-nya olahraga, tentu nuansa persaingan, adu gengsi, dan kebanggaan (pride), selalu mengiringi setiap pertandingan.
Gambaran itulah yang terjadi dalam hari pertama turnamen dimulai, Rabu, seusai dibuka secara resmi.
Emas perdana dan kedua untuk kontingen Indonesia ditorehkan oleh masing-masing atlet para balap sepeda putra dan putri, yakni Nurfendi serta Vanza Mifthahul Jannah. Keduanya berhasil mengawinkan emas dari nomor men's time trial B klasifikasi MB2 dan women's time trial B klasifikasi WB2.
Setelah dua emas diraih, giliran cabang olahraga para renang yang unjuk gigi guna merebut medali terbaik.
Dimulai oleh Siti Alfiah. Dia menorehkan prestasi terbaik lewat final nomor lomba 400 meter gaya bebas putri untuk klasifikasi S6, yang diselenggarakan di 80th Birthday Anniversary Stadium's Aquatic Center, Nakhon Ratchasima.
Setelah itu, perolehan emas mengucur deras. Tim para renang memanen enam emas guna memberi sinyal kepada tuan rumah, bahwa skuad Merah Putih datang sebagai penantang utama untuk menduduki kasta tertinggi perolehan medali.
Secara jumlah, renang bukan yang terbanyak meraih emas untuk kontingen Indonesia. Karena, tim para atletik telah menyumbangkan 18 emas pada hari pertama.
Tetapi, jumlah itu selaras dengan banyaknya atlet serta nomor pertandingan di cabang olahraga itu. Tim para atletik berjumlah 56 orang, sedangkan para renang sebanyak 28 atlet alias setengahnya.
Baca juga: Klasemen medali APG 2025: Indonesia di peringkat kedua
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































