Mataram (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan kakao sebagai komoditas prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
"Kami menetapkan kakao sebagai komoditas prioritas karena memiliki potensi besar dalam meningkatkan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah," kata Kepala OJK NTB Rudi Sulistyo dalam pernyataan di Mataram, Minggu.
Rudi mengatakan pemilihan kakao sebagai komoditas prioritas berdasarkan peluang pengembangan usaha yang masih terbuka luas di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Baca juga: Kakao, dari biji ke martabat
Data terakhir yang dirilis Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menyebut sebanyak 60 persen perkebunan kakao berpusat di Lombok Utara dengan jumlah produksi 1.669 ton biji kering per hektare dan digeluti oleh 4.600 kepala keluarga.
Nusa Tenggara Barat mulai mengembangkan komoditas kakao melalui Proyek Pengembangan dan Penyuluhan Pertanian Daerah (P4D) sekitar era 1980-an. Beberapa varietas kakao unggulan NTB, antara lain Ijo Kajuman, Beneng Jomot, dan Inderti DM01.
OJK telah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kelompok petani kakao di Lombok Utara, guna membantun ekosistem usaha perkebunan yang berkelanjutan.
Baca juga: Emas cokelat, modal baru diversifikasi ekonomi berkelanjutan Kutim
"Kami juga melibatkan sektor asuransi dalam upaya memperkuat perlindungan usaha petani," ucap Rudi.
OJK memetakan berbagai kebutuhan utama yang masih menjadi tantangan mulai dari akses pembiayaan, kepastian pasar, hingga perlindungan usaha bagi para petani kakao.
Bahkan, sebagian petani masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan untuk pengembangan usaha tani dan membutuhkan perusahaan penampung hasil produksi agar rantai pasok kakao lebih terjamin.
Rudy menilai pemahaman petani terhadap manfaat asuransi masih relatif rendah. Padahal, perlindungan asuransi sangat penting untuk memitigasi risiko gagal panen maupun gangguan produksi yang dapat mempengaruhi keberlanjutan usaha.
Baca juga: LPEI: Kinerja ekspor kakao RI tumbuh positif di tengah tekanan pasokan
Baca juga: Kemendag: Harga biji kakao naik akibat penutupan Selat Hormuz
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































