Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan bahwa target pengurangan emisi Indonesia dalam Second Nationally Determined Contribution (SNDC) lebih ambisius 8-17 persen dibandingkan target sebelumnya.
Dalam rapat koordinasi akhir jelang Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Jakarta, Rabu, Menteri LH/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif menyampaikan target dalam SNDC sudah mengikuti Low Carbon Compatible with Paris Agreement (LCCP) yang terbagi dalam dua kategori Low atau LCCP-L dan High atau LCCP-H.
"Masing-masing sebesar 1,3 gigaton untuk skenario Low dan 1,49 gigaton untuk skenario High. Dibandingkan dengan skenario Countermeasure 2 (CM2) dalam Enhanced NDC yaitu sebesar 1,6 gigaton CO2 ekuivalen pada tahun 2030. Hal ini mencerminkan penurunan emisi sebesar 8 sampai 17,5 persen," jelas Menteri Hanif.
Jumlah itu, katanya, memperlihatkan bahwa Indonesia tidak menurunkan jumlah emisi yang ingin ditekan tapi malah memiliki target yang lebih ambisius jika dibandingkan dokumen iklim sebelumnya.
Skenario LCCP-L sendiri ditetapkan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,0 persen pada 2030 dan 6,7 persen pada 2035. Sementara untuk LCCP-H mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.
Kedua skenario itu sudah sejalan dengan kesepakatan COP28 di Dubai yang meminta negara-negara menyusun target baru untuk menahan laju peningkatan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius.
Untuk mencapai target ambisius itu, Hanif mengingatkan pentingnya penyusunan peta jalan dan koordinasi lintas sektor demi memastikan implementasi rencana tersebut di lapangan.
"Angka ini menukik tajam dari kondisi emisi gas rumah kaca yang tercatatkan pada hari ini. Sehingga diperlukan langkah-langkah lebih ambisius kita semua," demikian Hanif Faisol Nurofiq.
Baca juga: Pemerintah Indonesia akan kembali tegaskan komitmen iklim dalam COP30
Baca juga: RI telah serahkan dokumen iklim Second NDC dengan target emisi baru
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































