Semarang (ANTARA) - Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang yang berlokasi di kompleks Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Semarang milik Kementerian Ketenagakerjaan telah beroperasi sejak September 2025.
"Sudah beroperasi sejak September dengan berbagai dinamika Sekolah Rakyat di awal pembelajaran," kata Mensos di Semarang, Rabu.
Oleh karena itu, ia menyebut diperlukan empati dan kesabaran oleh para guru dan pendamping siswa.
Di Sekolah Rakyat Terintegrasi Semarang tersebut terdapat jenjang pendidikan SD, SMP, hingga SMA.
Mensos menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kota Semarang dalam menyediakan lahan untuk sekolah rakyat.
Ia menuturkan, Sekolah Rakyat Terintegrasi Semarang merupakan satu dari 166 sekolah yang telah beroperasi di berbagai wilayah di Indonesia.
Baca juga: Pemprov Gorontalo siapkan lahan pembangunan Sekolah Rakyat
Baca juga: Siswa Sekolah Rakyat di Tangsel dapat laptop
Saat ini, lanjut dia, sudah ada sekitar enam ribu guru serta tenaga kependidikan pendukung operasional Sekolah Rakyat yang telah direkrut.
Dalam mengisi guru maupun tenaga kependidikan untuk Sekolah Rakyat, kata dia, pemerintah mengutamakan PNS serta pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja untuk direkrut.
"Kalau dari PNS serta PPPK sudah tidak memungkinkan maka akan dilakukan rekrutmen baru," katanya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat berkunjung ke Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Kota Semarang, Rabu (29/10/2025). ANTARA/I.C. SenjayaSementara Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini menambahkan, pemenuhan tenaga guru untuk Sekolah Rakyat membutuhkan standardisasi khusus.
"Presiden Prabowo Subianto memberikan penekanan terhadap kualitas guru Sekolah Rakyat," katanya.
Menurut dia, guru Sekolah Rakyat bertugas untuk membangun empati, keberanian, dan kepercayaan diri.
Baca juga: Kemensos ajak siswa SR mengenal sejarah rupiah dan makna Sumpah Pemuda
Baca juga: Pemkab Nagan Raya Aceh pastikan Sekolah Rakyat dibangun tahun ini
Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































